Dakwah Raden Patah, dari Gamelan hingga Syahadat
- 05 Sep 2026 20:48 WIB
- Surakarta
RRI. CO. ID, Surakarta - Peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Demak tidak terjadi dalam satu malam.
Ada perebutan pengaruh, perang, dan proses panjang yang kemudian membuka jalan bagi tumbuhnya kekuasaan Islam di Jawa.
Hal itu disampaikan Drs KH Subari dalam Pengajian Munadhoroh Korp Muballigh Muhammadiyah di SMK Muhammadiyah 3 Surakarta, Sabtu 05 September 2026.
Ia mengangkat tema penguatan ideologi Muhammadiyah sekaligus menyinggung peran Raden Patah dalam perkembangan Islam di Jawa.
Menurut Subari, salah satu rangkaian penting terjadi ketika Majapahit menghadapi serangan Girindrawardhana, penguasa Daha, Kediri.
Dalam situasi politik yang tidak stabil itu, Raden Patah, yang disebut sebagai keturunan Brawijaya, tampil dalam pusaran perubahan kekuasaan.
“Peralihan dari Majapahit ke Demak itu proses yang panjang. Raden Patah memiliki peran penting dalam melanjutkan kekuasaan sekaligus mengembangkan dakwah Islam,” ujar Subari.
Dalam paparannya, Subari menjelaskan Raden Patah kemudian dikenal sebagai penguasa Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar.
Perannya tidak berhenti pada urusan politik. Dakwah juga dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Setiap bulan Mulud, masyarakat diajak mengikuti Sekaten. Gamelan Jawa dimainkan sebagai bagian dari perayaan. Di tengah kerumunan itulah dakwah disampaikan. Masyarakat yang hendak menyaksikan kegiatan diarahkan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Menurut Subari, istilah Sekaten dikaitkan dengan syahadatain, yakni dua kalimat syahadat.
“Dakwah melalui seni disenangi masyarakat Jawa karena kesenian sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Saat senang maupun susah, masyarakat tetap dekat dengan seni,” katanya.
Ia memberi gambaran sederhana. Bahkan ketika membajak sawah yang berat, masyarakat Jawa kerap bekerja sambil bernyanyi.
Dari sana, kata Subari, ada pelajaran penting bagi dakwah masa kini: pesan agama akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan pendekatan yang memahami budaya masyarakat, tanpa kehilangan substansi ajaran.
Bagi Muhammadiyah, pendekatan itu relevan untuk memperkuat dakwah yang mencerahkan. Bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi menghadirkan Islam dekat dengan kehidupan yang menggembirakan dan mencerahkan.
“Dakwah, dalam pandangan itu, bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut hadir, menyentuh, dan diterima masyarakat secara nyata pada zamannya,” pungkasnya. (Edwi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....