DPRD Surakarta Desak Pengawasan MBG Diperketat, Kasus Jangan Sampai Terulang

  • 03 Sep 2026 19:32 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Komisi IV DPRD Kota Surakarta meminta Pemerintah Kota Surakarta memperketat pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Desakan tersebut disampaikan menyusul kembali munculnya gangguan kesehatan pada siswa serta temuan bakteri E. coli dalam sejumlah sampel makanan di SMAN 6 Surakarta.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Surakarta, Sugeng Riyanto, mengatakan kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, terutama dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP) di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ia meminta Satgas MBG bersama Sekretaris Daerah dan Wali Kota Surakarta memastikan seluruh SPPG menjalankan prosedur keamanan pangan secara ketat. Pengawasan, menurutnya, tidak boleh dilakukan secara longgar.

“Perketat semua SOP. Jangan ada toleransi, supaya tidak ada lagi anak-anak kita yang menjadi korban,” ucap Sugeng.

Sugeng mengatakan Komisi IV sebelumnya juga telah melakukan sidak di sejumlah sekolah yang menjalankan program MBG. Karena itu, ia menilai kejadian di SMAN 6 perlu menjadi perhatian serius agar gangguan kesehatan akibat makanan MBG tidak kembali terjadi.

Kepala SMAN 6 Surakarta, Santosa, menyebut sebanyak 175 siswa sebelumnya tidak masuk sekolah karena mengalami mual, muntah, sakit perut hingga diare. Pihak sekolah kemudian menerima hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan adanya bakteri E. coli pada beberapa sampel makanan.

“Dari hasil uji laboratorium terdapat bakteri E. coli dari kuah sup dan jamur, semuanya di atas ambang batas, kecuali nasi,” ujar Santosa.

Selain kualitas makanan, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Surakarta, Janjang Sumaryono Aji, meminta aspek lain dalam proses penyediaan MBG turut diperhatikan. Menurutnya, keamanan pangan juga berkaitan dengan kualitas air dan kebersihan peralatan makan yang digunakan siswa.

“Kasus seperti ini terjadi berturut-turut, bahkan hampir setiap dua bulan. Korbannya juga tidak sedikit, lebih dari 1.200 siswa. Selain bakteri E. coli yang ditemukan pada menu, menurut saya ompreng juga perlu menjadi perhatian,” kata Janjang.

Janjang meminta penyedia makanan maupun katering memastikan air yang digunakan untuk memasak dan mencuci peralatan makan memenuhi standar kesehatan. Pengawasan tersebut dinilai penting karena proses penyediaan makanan tidak hanya bergantung pada bahan yang digunakan.

Ia juga menyebut sejumlah siswa yang mengalami gangguan kesehatan harus mendapatkan penanganan medis. Bahkan, terdapat siswa yang dibawa ke Unit Gawat Darurat dan beberapa lainnya menjalani rawat inap.

“Bukan hanya masuk Puskesmas kemudian keluar. Ada juga yang masuk UGD dan beberapa harus opname. Saya meminta pemerintah serius menanggapi persoalan ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala SPPG Nusukan 04, Evin Suri, membenarkan adanya temuan E. coli pada hasil pemeriksaan laboratorium. Ia menjelaskan, SPPG selama ini menggunakan air isi ulang dengan sistem reverse osmosis atau RO untuk kebutuhan proses memasak.

“Kita menggunakan air isi ulang (RO), karena TDS di sini lumayan tinggi. Kita mengambil dari UMKM dekat sini. Mereka sebenarnya memiliki hasil cek laboratorium, tetapi belum diperbarui,” ucap Evin.

Janjang menegaskan keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi prioritas dalam pelaksanaan MBG. Karena itu, pemerintah diminta melakukan evaluasi terhadap seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari bahan, air, proses memasak, peralatan, hingga distribusi ke sekolah. (Ryan Asyyidiqi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....