Antisipasi Penurunan Panen akibat Kemarau, Dispertan Boyolali Andalkan Sumur

  • 29 Agt 2026 14:15 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali – Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Boyolali mengoptimalkan bantuan 73 unit sumur dalam guna mendongkrak frekuensi panen dan menekan dampak kekeringan selama musim kemarau. Selain penyediaan infrastruktur irigasi, petani yang kawasannya krisis air juga dihimbau mengalihkan komoditas tanam dari padi ke tanaman palawija.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, Suyanta menjelaskan bahwa bantuan sumur dalam dari pemerintah pusat tersebut ditempatkan di daerah-daerah rawan air seperti Kecamatan Klego dan Karanggede. Saat ini pengerjaannya sudah mencapai hampir 60 persen dan terbukti berhasil mengeluarkan air untuk mengairi lahan pertanian warga.

Menurut Suyanta, keberadaan sumur dalam berkapasitas cakupan tujuh hingga 10 hektar per unit ini bertujuan untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP). Langkah ini menjadi solusi utama Pemkab Boyolali dalam memperluas produksi pangan tanpa harus menambah luas lahan sawah.

"Boyolali mendapatkan bantuan sumur dalam sekitar 73 unit yang sekarang sudah mulai proses, baik di Klego maupun Karanggede, dan ini sudah mulai berhasil sumurnya. Harapan kami dengan sumur dalam ini, yang dulu panennya satu tahun satu kali bisa menjadi tiga kali. Karena memperluas sawah tidak mungkin, kita bisanya menambah jumlah IP atau perkalian tanam," kata Suyanta ditemui saat menghadiri acara peresmian Pasar Rakyat Nogosari baru pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Meski pasokan air mulai disokong oleh sumur dalam, APBD, hingga sumur swadaya warga, Dispertan Boyolali tetap mengingatkan para petani agar bijak memperhitungkan ketersediaan air di wilayah masing-masing.

Petani yang kawasannya tidak memiliki kecukupan air disarankan untuk tidak memaksakan menanam padi pada musim kemarau ini. Sebagai gantinya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, Suyanta mengarahkan petani untuk beralih menanam komoditas palawija seperti jagung dan kacang tanah yang jauh lebih tahan terhadap cuaca kering namun tetap bernilai ekonomi tinggi.

"Harapan kami kalau bisa jangan padi untuk musim ini, bagi yang kira-kira airnya tidak mencukupi jangan memaksakan. Bisa beralih ke jagung atau kacang tanah yang penting pangan dulu. Di Boyolali kan banyak penghasil jagung dan kacang tanah, itu harapan kami ke arah sana agar pangan kita tetap tercukupi," katanya menambahkan.

Meskipun begitu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali menegaskan, meski kemarau dan serangan hama sempat menyebabkan penurunan hasil panen padi sekitar tiga persen, namun ketersediaan beras di Boyolali dipastikan masih aman dan mengalami surplus hingga 7.000 ton sampai Oktober mendatang. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....