Ketua Pinsar Boyolali Gelorakan Manifesto Kemerdekaan Peternak Indonesia
- 26 Agt 2026 15:55 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Boyolali – Ketua Pimpinan Wilayah Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Boyolali, Krishandrika Immanuel Raharjo, menyuarakan arah perjuangan peternak lokal melalui Manifesto Kemerdekaan Peternak Indonesia.
Langkah ini diambil guna mendorong ekosistem perunggasan yang berkeadilan dari hulu hingga hilir, di tengah himpitan biaya produksi yang kian mencekik peternak rakyat. Para peternak di Boyolali saat ini berada dalam posisi yang sangat rentan akibat lonjakan harga pakan seperti jagung, Meat and Bone Meal (MBM), hingga bungkil kedelai yang menyumbang hingga 70 persen dari total biaya produksi.
Kondisi tersebut memaksa peternak menjadi price taker atau pihak yang hanya bisa menerima harga pasar, baik saat membeli bahan baku maupun ketika menjual hasil produksi. Guna mengatasi persoalan yang berulang ini, Pinsar Boyolali mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk tidak sekadar menjadi "pemadam kebakaran" saat terjadi krisis atau penumpukan pasokan.
Pemerintah diharapkan segera membangun sistem data perunggasan nasional yang terintegrasi serta menjalankan Harga Acuan Pemerintah (HAP) secara konsisten di lapangan sebagai instrumen perlindungan.
"Manifesto ini bukan hanya membicarakan keuntungan peternak. Manifesto ini memperjuangkan keberlanjutan produksi pangan, keberadaan peternak rakyat, persaingan usaha yang sehat, kedaulatan pangan Indonesia dan menjaga keberlangsungan peternakan di Indonesia dengan indikator anak-anak peternak yang masih bangga dan tertarik meneruskan usaha orang tuanya," ujar Ketua Pinsar Boyolali, Krishandrika Immanuel Raharjo saat diwawancara RRI pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Membawa peternakan naik kelas menjadi bidang kerja yang prestisius untuk generasi penerus. Selain itu, Pinsar Boyolali mengusulkan agar pemerintah melibatkan peternak rakyat secara langsung dalam program-program strategis, seperti pengadaan telur dan daging ayam untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Gerakan Pangan Murah, hingga penanganan stunting.
Integrasi ini dinilai mampu menstabilkan pasokan sekaligus memperkuat perekonomian produsen lokal. Di sisi lain, Pinsar menekankan bahwa perjuangan ini juga diiringi dengan komitmen pembenahan internal dari para peternak, mulai dari peningkatan efisiensi kandang, penerapan biosekuriti, hingga penguatan kelembagaan melalui koperasi.
"Petani menanam, peternak memelihara, pedagang menyalurkan, masyarakat menikmati, dan negara menjaga keadilan. Itulah kemerdekaan pangan yang sesungguhnya," kata Krishandrika. (JK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....