Mural SMARTIN-AJA Gambarkan Perjuangan Bebas Polusi

  • 22 Agt 2026 16:57 WIB
  •  Surakarta


RRI.CO.ID, Sukoharjo - Pengembangan teknologi pengolahan sampah rumah tangga di Dukuh Kebakan, Sapen, Mojolaban, Sukoharjo, tidak hanya menghadirkan mesin pembakar sampah minim polusi. Tim peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS) juga menghadirkan mural sebagai media edukasi yang menggambarkan perubahan lingkungan sebelum dan sesudah penggunaan SMARTIN-AJA.

SMARTIN-AJA atau Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga dikembangkan untuk mengurangi praktik pembakaran sampah secara terbuka yang berpotensi menghasilkan abu terbang, asap, serta jelaga.

Melalui sistem tersebut, gas hasil pembakaran diarahkan menuju unit wet scrubber. Air yang digunakan untuk menangkap abu, asap, dan jelaga selanjutnya diproses melalui sedimentasi, filtrasi, serta pengendalian kualitas sebelum digunakan kembali atau dialirkan sesuai ketentuan.

Hasil pengujian awal menunjukkan asap dan jelaga dapat ditangkap secara signifikan. Mesin tersebut memiliki kapasitas terukur sekitar 30 kilogram sampah basah per jam, meski hasil itu masih akan dievaluasi melalui pengujian lebih lanjut.

Kaprodi Seni Rupa FSRD UNS, Sigit Purnomo Adi, mengatakan mural yang dibuat di lokasi menjadi bagian penting untuk menggambarkan perjalanan pengelolaan sampah di lingkungan tersebut.

“Jadi mural itu memang dibuat sebagai ilustrasi tentang perkembangan pembuatan insenerator yang dulu itu sebelum ada insenerator itu, sampahnya itu penuh polusi karena dibakar langsung,” ujarnya kepada RRI, Sabtu 22 Agustus 2026.

Sigit menjelaskan, mural berukuran sekitar tujuh meter kali lima meter tersebut menggambarkan dua kondisi yang berbeda. Bagian kiri memperlihatkan kondisi lingkungan yang dipenuhi sampah dan polusi akibat pembakaran terbuka, sedangkan bagian kanan menggambarkan lingkungan yang lebih bersih setelah pengelolaan sampah dilakukan secara teratur.

“Jadi mural yang saya gambarkan itu tidak hanya sekedar hiasan atau bersifat estetik atau untuk keindahan, tapi juga mural itu lebih condongnya ke ilustrasi sejarah,” ucapnya.

Pengerjaan mural melibatkan tim teknis, pemuda kampung, serta warga Dukuh Kebakan. Sigit menyebut sejumlah pihak yang terlibat antara lain Bagus Nuvianto, Luthfi, Rasad, Artaste, Maizan Ka-Katiri dan Jevi.

Selain menonjolkan aspek visual, mural tersebut menggunakan cat berbasis air yang ramah lingkungan dan diperuntukkan bagi penggunaan luar ruangan.

Menurut Sigit, keberadaan mural juga menjadi simbol bahwa masyarakat dapat terbebas dari dampak buruk pembakaran sampah secara terbuka.

“Yang paling penting dalam suasana kemerdekaan ini kalau dihubungkan dengan kemerdekaan Indonesia, mural itu juga menggambarkan kemerdekaan dari polusi udara, dari sampah, dari bau yang menyengat,” katanya.

Melalui perpaduan teknologi dan karya seni, pengembangan SMARTIN-AJA diharapkan tidak hanya menjadi solusi teknis pengolahan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. (Ase)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....