Edutorium UMS Jadi Venue Pembukaan Muktamar Ke-15 Nasyiatul Aisyiyah

  • 07 Agt 2026 20:59 WIB
  •  Surakarta

RRI. CO. ID, Surakarta - Edutorium K.H Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id ditunjuk sebagai venue Muktamar ke-15 Pimpinan Pusat (PA) Nasyiatul Aisyiyah (NA).

Sebanyak ribuan peserta NA se-Indonesia memenuhi Edutorium K.H Ahmad Dahlan UMS, pada Jum’at, 07 Agustus 2026.

Turut hadir juga Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., beserta jajarannya, dan Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., beserta para Wakil Rektor UMS. Selain itu, UMS ikut memeriahkan lewat penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) PSM Voca Al-Kindi saat pembukaan acara Muktamar PP NA.

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Nasyiatul Aisyiyah, Monica Subastia, M.Pd., dalam sambutannya mengucapkan rasa syukur dan bangga dapat dipercaya menjadi tuan rumah dalam pagelaran akbar Muktamar ke-15 NA. Ia juga menyambut baik kedatangan para kader NA seluruh Indonesia.

“Alhamdulillah kami dapat dipercaya menjadi tuan rumah. Maka, pada kesempatan kali ini Kami perwakilan dari PW NA Jawa Tengah mengucapkan selamat datang kepada seluruh kader NA se-Indonesia sebanyak 6.700 kader yang hadir di forum kali ini," ujarnya.

Ketua umum PP NA, Ariati Dina Puspitasari, S.Si., M.Pd., menyampaikan bahwa Muktamar NA pertama kali tahun 2000, bertempat di Surakarta. Menurutnya, momen ini sebagai pengingat perjuangan para tokoh NA terdahulu.

“Artinya ketika kami kembali di surakarta membawa semangat baru, berkumpul dengan para perempuan NA se- Indonesia guna memuhasabah dan menata arah gerak NA secera kolektif menuju abad ke-2,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa Muktamar ke-15 NA adalah ruang untuk meneguhkan kembali niat dalam berorganisasi dan berdakwah lewat NA demi menciptakan perempuan-perempuan muda berkarakter di tengah-tengah masyarakat.

“Perlu kita refleksikan bersama mengapa organisasi ini didirikan, sehingga kita memiliki semangat juang yang kita, kesempatan ini juga sebagai momentum bagi para perempuan muda untuk mengingat kembali bagaimana perannya menjadi perempuan bangsa,” katanya.

Menurutnya, transformasi digital, kesehatan mental, krisis iklim menjadi tantangan besar bagi perkembangan NA. Ia menegaskan bahwa lewat tantangan zaman yang semakin beragam, NA perlu memperkuat ekosistem organisasinya dalam mengambil peran di tengah-tengah masyarakat.

Sambutan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr Haedar Nashir, M.Si.

“Segala dinamika perkembangan zaman menuntut kader-kader NA untuk dapat membaca kondisi zaman. Kader NA tidak boleh sekedar memilih menjadi penonton perkembangan zaman, namun kader NA harus menjadi aktor perubahan zaman,” tegasnya.

Syamsudin Isnaini, S.STP, SH., M.H., Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah., mengapresiasi konsistensi semangat NA dalam mencetak perempuan-perempuan bangsa yang berkemajuan.

“Selama satu abad NA menjadi ruang untuk menghadirkan perempuan muda berkemajuan yang telah banyak berkontribusi bagi kemajuan bagsa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa perempuan muda memiliki posisi yg sangat strategis. Menurutnya, di Jawa Tengah telah mengupayakan ruang aman bagi perempuan untuk menjadi aktor perubahan zaman.

Syamsudin mengatakan percaya kepada organisasi NA dalam mempercepat perkembangan zaman. Ia berharap lewat Muktamar NA yang ke-15 dapat menjawab kebutuhan bangsa dengan menghadirkan pemimpin perempuan yang berkarakter.

“Saya Berharap lewat Muktamar kali ini dapat menghasilkan kepemimpinan baru yg amanah, visioner, dan berkemajuan,” pungkasnya.

Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. mengapresiasi penuh diselenggarakannya Muktamar ke-15 NA. Ia menegaskan bahwa muktamar bukan sekadar tempat berkumpul dan berpartisipasi secara formalistik. Namun, sebagai forum bermusyawarah untuk membahas proyeksi NA di masa depan.

“Bermusyawarah dg kecerdasan dan ilmu yg mencukupi di kala zaman yg cenderung elektoral yg menghasilkan pemahaman liberal. NA menjadi tempat bermusyawarah yg penuh kebijaksanaan yang sesuai dengan nilai pancasila yang keempat,” jelasnya.

Ia berpesan kepada para peserta agar menjadikan Muktamar NA sebagai ajang mempererat tali silaturahmi persyarikatan, ikatan persaudaraan yang autentik, yg disongkong dengan nilai-nilai ideologi persyarikatan. Menurutnya, di dalam persyarikatan terdapat keragaman yang perlu diikat dengan tali kasih sayang.

“Keragaman merupakan keniscayaan, yg perlu dikuatkan dg kasih sayang, sehingga kita akan terhindar dari ilustrasi satu tubuh yang kelihatan sempurna, tetapi memiliki jiwa yang rapuh,” tutupnya. (Edwi/Rill)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....