Wayang Potehi Perkuat Toleransi dan Keberagaman Budaya Solo

  • 01 Agt 2026 22:42 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Pagelaran Wayang Potehi 2026 menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus memperkuat toleransi dan keberagaman masyarakat Kota Surakarta. Pagelaran yang berlangsung selama 12 hari itu dibuka Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, di Klenteng Tien Kok Sie, kawasan Pasar Gede, Sabtu 1 Agustus 2026.

Pagelaran yang diselenggarakan Yayasan Klenteng Tien Kok Sie berlangsung mulai 1 hingga 12 Agustus 2026. Wayang Potehi merupakan seni pertunjukan boneka sarung tangan khas Tionghoa yang telah berkembang di Indonesia sejak abad ke-17 dan berakulturasi dengan budaya lokal.

Astrid mengapresiasi Yayasan Klenteng Tien Kok Sie dan seluruh panitia yang konsisten menjaga keberlangsungan kesenian tersebut. Menurutnya, Wayang Potehi menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.

“Kegiatan ini menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya dijaga, tetapi juga terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman,” ujar Astrid.

Menurut Astrid, Surakarta sebagai Kota Budaya memiliki keberagaman tradisi, adat istiadat, dan kebudayaan yang selama ini hidup berdampingan. Wayang Potehi dengan nilai sejarah, filosofi, dan seninya turut memperkaya keberagaman budaya di Kota Bengawan.

“Pagelaran ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi sarana mempererat kerukunan antarumat beragama, memperkuat persaudaraan, dan membangun ruang dialog budaya yang inklusif,” katanya.

Astrid menegaskan Pemerintah Kota Surakarta akan terus mendukung kegiatan pelestarian budaya, termasuk budaya yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Solo. Ruang bagi pelaku seni dan budaya dinilai penting untuk memperkuat identitas Surakarta sebagai kota budaya sekaligus kota yang menjunjung toleransi.

“Semakin banyak ruang yang diberikan kepada para pelaku seni dan budaya, maka semakin kuat pula identitas Kota Surakarta sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan dan toleransi,” ucapnya.

Ia juga mengajak masyarakat menjaga semangat kebhinekaan dan mendorong generasi muda memanfaatkan pagelaran budaya sebagai sarana pembelajaran. Warisan budaya, menurutnya, harus terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

“Jangan biarkan warisan budaya hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi jadikan sebagai inspirasi untuk terus berkarya dan melestarikannya di masa depan,” ujar Astrid.

Usai membuka pagelaran, Astrid menerima cenderamata dari Yayasan Klenteng Tien Kok Sie berupa satu tokoh Wayang Potehi dan keramik bergambar ikan koi. Cenderamata tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dukungan Pemkot Surakarta terhadap pelestarian budaya dan penguatan kerukunan antarumat beragama. (Reza)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....