Guru Didorong Kuasai Teknik Bedah Sastra
- 24 Jul 2026 19:29 WIB
- Surakarta
RRI.CO,ID, Surakarta - Guru Bahasa Jawa SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta Ki Agung Sudarwanto membedah geguritan (puisi Jawa) secara mendalam di hadapan para murid.
Dalam rangka membumikan Basa Jawa hasil dari Diseminasi Model Pembelajaran Bahasa Jawa Tahun 2026 yang diselenggarakan di Aula Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Surakarta, Jumat 24 Juli 2026.
Aksi guru Bahasa jawa ini menjadi dorongan nyata bagi para pendidik untuk menguasai teknik analisis sastra guna menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan apresiasi budaya generasi muda.
Dalam peragaan tersebut, Ki Agung mengupas tuntas struktur serta estetika bait geguritan.
Menurutnya, membedah karya sastra bukan sekadar membaca isi teks, melainkan menganalisis unsur intrinsik dan ekstrinsik yang membangun karya secara utuh.
"Pendekatan ini membantu pembaca memahami cara penyair menghadirkan makna, pesan, gaya bahasa, hingga konteks sosial budayanya," ujar Agung di sela-sela pembelajaran.
Sedikitnya ada tujuh unsur intrinsik yang ditekankan dalam kajian geguritan tersebut mulai dari tema gagasan pokok atau pandangan hidup penyair. Alur sebuah rangkaian peristiwa dan penataan gagasan antarbait.
“Karakter yaitu penokohan atau sudut pandang penutur (pamawas). Setting (Latar) terkait tempat, waktu, dan suasana yang membangun ruh puisi. Gaya Bahasa dengan pemilihan diksi, purwakanthi, dan penggunaan majas,” bebernya.
Dia menambahkan geguritan harus memberi pesan moral di mana ajaran luhur (pitutur) mengenai etika dan kebaikan. Struktur Karya bagaiman kesatuan susunan yang merangkai seluruh unsur menjadi utuh.
Ki Agung menambahkan, beberapa geguritan, terutama yang berbentuk balad, turut memuat alur dan penokohan kuat layaknya narasi cerita.
“Oleh karena itu, analisis geguritan yang presisi sangat mendesak diterapkan di kelas,” imbuhnya.
Penerapan metode pembelajaran sastra yang kontekstual ini diharapkan menjadi bekal penting bagi para guru. Dengan begitu, siswa tidak sekadar memindai kata di atas kertas, tetapi juga mampu mengekspresikan.
Seperti diketahui dia alumni Sarjana Seni (SSn) Indonesia (STSI) Surakarta, sering dipercaya menyusun naskah dan mengarahkan pementasan dalang China di Nganjuk, Surabaya, Semarang, dan Madura.
“Sewaktu kecil, saya pernah diundang pentas di rumah Ki Manteb Soedharsono di Karangpandan dan Ki Anom Suroto. Pada tahun 1991, saya di tunjuk TVRI Surabaya untuk siaran dengan lakon Babad Alas Mrentani. Lalu pentas di RRI Semarang dan di Sragen dengan arahan almarhum Ki Prenggo Darsono dan almarhum Ki Gondo Darman,” pungkasnya. (Edwi)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....