Topang Ketahanan Pangan, Presiden Prabowo Resmikan Bendungan Jlantah

  • 10 Jul 2026 18:49 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Karanganyar - Presiden Prabowo Subianto meresmikan Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, melalui konfensi virtul, bersamaan dengan empat bendungan lain di Indonesia pada Jumat 10 Juli 2026. Infrastruktur strategis yang dibangun sejak tahun 2019 dengan anggaran mencapai Rp1,08 triliun ini diproyeksikan menjadi pilar ketahanan pangan nasional melalui penyediaan air baku berkelanjutan.

Pusat seremoni peresmian infrastruktur pengairan ini dipusatkan secara terpadu di Bendungan Meninting, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Total investasi akumulatif untuk pembangunan kelima bendungan yang tersebar di wilayah Aceh, Bali, Jawa Tengah, dan NTB tersebut mencapai Rp9,79 triliun.

Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya mengatakan, keberadaan lima bendungan tersebut akan memperkuat sistem irigasi nasional dan mampu meningkatkan produksi pertanian secara signifikan.

"Dengan ini saya resmikan Bendungan Meninting di NTB, Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh di Provinsi Aceh, Bendungan Jlantah di Provinsi Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Provinsi Bali. Lima bendungan ini dengan investasi Rp9,79 triliun, tetapi dari sini kita akan menghemat Rp170 triliun," ujar Presiden.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Gatot Bayuaji usai menghadiri peresmian mengatakan, pengerjaan fisik bangunan utama bendungan raksasa tersebut kini telah rampung secara menyeluruh. Otoritas bendungan kini fokus melanjutkan optimalisasi jaringan irigasi sekunder agar pasokan air bisa segera menjangkau sisa target lahan pertanian warga.

Secara teknis, Bendungan Jlantah dirancang untuk mengairi area persawahan seluas 1.494 hektare yang tersebar di empat wilayah kecamatan di Karanganyar. Hingga saat ini, tercatat baru sekitar 806 hektare lahan yang sudah berhasil mendapatkan pasokan air berkala dari waduk tersebut.

"Kalau bendungannya sudah selesai, tetapi bendungan ini multipurpose, artinya banyak manfaatnya, salah satunya adalah irigasi," kata Gatot Bayuaji saat memberikan keterangan kepada wartawan.

Gatot mengungkapkan sisa lahan potensial seluas 688 hektare akan dioptimalkan melalui program pembangunan saluran pembawa dan pembukaan area cetak sawah baru. BBWSBS kini terus mengintensifkan koordinasi bersama pemerintah daerah guna mempercepat pembebasan lahan kas desa yang tersisa.

"Sisa terkait Tanah Kas Desa (TKD) ini ada selahnya dengan pemerintah daerah bukan dengan warga. Warga hanya tinggal satu. Tapi sudah kita ajukan yang sekitar 200-an meter persegi. Kita masih menyisihkan 37 bidang," ujarnya.

Langkah percepatan penataan jaringan distribusi air ini merupakan bagian dari upaya taktis dalam menerjemahkan instruksi langsung dari kepala negara pascaperesmian. Gatot menyebut, ketersediaan cadangan air waduk ini juga disiapkan sebagai solusi preventif jangka panjang dalam mengantisipasi ancaman bencana kekeringan musiman.

"Kalau kita dalam kehidupan sehari-hari punya tabungan, bendungan itu ibarat tabungan air," ucapnya.

Gatot menambahkan, Bendungan Jlantah juga menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai pembangkit listrik ramah lingkungan berkapasitas 10,625 megawatt. Sektor pariwisata lokal juga berpeluang tumbuh pesat melalui skema pembagian zonasi pemanfaatan kawasan publik yang aman bagi wisatawan.

"Pariwisata tentunya bukan tupoksi kami. Tetapi kita bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Silakan pemerintah daerah memiliki perencanaan dikomunikasikan dengan kita terkait dengan pemanfaatan bendungan," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Karanganyar Rober Christanto menyambut gembira momentum pengoperasian bendungan baru ini demi kemajuan sektor agraris di Bumi Intanpari. Pemerintah daerah optimistis produktivitas hasil panen padi dan indeks pertanaman para petani lokal akan melonjak signifikan.

"Alhamdulillah hari ini Bendungan Jlantah sudah diresmikan bersama lima bendungan di Indonesia oleh Bapak Presiden," ucap Bupati.

Rober menegaskan komitmen jajarannya untuk mengawal penyelesaian infrastruktur irigasi primer demi mendukung perluasan areal tanam di kawasan selatan. Sinergi yang kuat antara pusat dan daerah diharapkan mampu menyukseskan program swasembada pangan nasional yang berkelanjutan.

"Kita akan optimalkan.pemanfaatan Bendungan Jlantah melalui sinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kelompok tani, dan seluruh pemangku kepentingan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat serta mampu meningkatkan kesejahteraan petani di Bumi Intanpari," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....