Rayakan HUT Ke-75, RS Soeharso Surakarta Gelar "Soeharso Inclusive Run 2026"

  • 24 Jun 2026 15:08 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Rumah Sakit Ortopedi (RSO) Soeharso Surakarta tahun ini akan diwarnai event lari inklusif tingkat nasional. Rumah sakit rujukan nasional tersebut resmi meluncurkan ajang "Soeharso Inclusive Run 2026", sebuah gerakan sosial berbasis olahraga yang mengusung tema Legacy, Humanity, Innovation.

Perhelatan yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Agustus 2026 ini, dirancang sebagai ruang inklusif yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Dalam pelaksanaannya, RSO Soeharso menggandeng Jorace Management sebagai mitra strategis untuk memastikan manajemen lomba berjalan profesional, aman, nyaman, serta ramah bagi kelompok disabilitas.

Ajang ini membuka dua kategori utama, yakni 7,5 kilometer (7,5K) dan 3 kilometer (3K). Jarak 7,5K merepresentasikan simbol perjalanan 75 tahun dedikasi RSO Soeharso di bidang ortopedi dan rehabilitasi medik. Sementara itu, kategori 3K Inclusive Run menjadi lintasan khusus yang dirancang tanpa batas aksesibilitas agar bisa diikuti oleh penyandang disabilitas, keluarga, komunitas, hingga masyarakat umum.

“Selama ini RS Soeharso dikenal sebagai institusi yang dekat dengan layanan rehabilitasi dan pemberdayaan penyandang disabilitas. Karena itu, kami ingin menjadikan Soeharso Inclusive Run sebagai perayaan yang benar-benar mencerminkan semangat tersebut. Inklusivitas bukan sekadar slogan, tetapi diwujudkan melalui partisipasi bersama dalam satu lintasan yang sama,” ujar Direktur Utama RS Soeharso, Dr. dr. Tito Sumarwoto saat pers rilis, Rabu 24 Juni 2026.

Tito menekankan ajang ini memicu komitmen bersama dalam membangun budaya hidup aktif sekaligus menghargai keberagaman fisik di ruang publik. Ajang nasional ini diproyeksikan melibatkan pelari dari berbagai daerah melalui dukungan lintas sektor, mulai dari komunitas olahraga, institusi kesehatan, dunia pendidikan, hingga swasta.

"Tarif pendaftaran terjangkau ini agar menjangkau kepesertaan yang luas, yakni Rp195.000 untuk kategori 7,5K, Rp168.000 untuk kategori 3K Inclusive Run, dan Rp80.000 bagi Running Buddy (pendamping lari)," katanya.

Gerakan ini juga mendapat respons positif dan dukungan penuh dari National Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Sekretaris Jenderal NPCI, Rima Ferdianto menyampaikan Keterlibatan NPCI mempertegas kedekatan historis organisasi tersebut dengan DNA perjuangan Profesor Soeharso yang sejak awal konsisten bergerak di jalur rehabilitasi dan pemberdayaan penyandang disabilitas.

“Iya, kita bangga sekali ya karena dari NPC Indonesia ini kan pendirinya sama DNA-nya dengan Prof. Suharso. Jadi beliau mendirikan Rumah Sakit Orthopedi sekaligus pendiri YPOC Cekal Bakal NPC Indonesia dan sekarang melaksanakan sebuah event lari yang pesertanya juga inklusif,” kata Sekretaris Jenderal NPCI, Rima Ferdianto.

Rima menyampaikan esensi dari kegiatan ini melampaui batas kompetisi fisik ataupun pencarian medali juara. Kehadiran para pelari dari berbagai kelompok, termasuk para difabel, menjadi simbol kuat mengenai pentingnya menyuarakan hak kesetaraan di tengah masyarakat.

“Dan semuanya dengan adanya inklusif run ini kita sebagai peserta itu semuanya harus menggelorakan bahwa semua itu setara. Jadi para pelari ini tidak hanya tentang prestasi tapi tentang kesetaraan. Ini event yang sangat bagus untuk menyuarakan kesetaraan di trek lari ini semua setara,” ucap Rima.

Rima menjelaskan untuk menjaga kenyamanan di trek lari, kuota khusus disabilitas dibatasi sebanyak 100 peserta melalui kemitraan bersama NPCI Jawa Tengah dan NPCI DIY. "Ini diambil agar tata kelola kepesertaan kaum difabel dapat terpenuhi secara optimal melalui koordinasi yang berfokus di wilayah sekitar Solo dan sekitarnya," ucapnya.

Adapun, lintasan 3K nantinya akan menyatukan berbagai klasifikasi disabilitas, seperti pengguna kursi roda balap, penderita cerebral palsy, disabilitas intelektual, disabilitas pendengaran, hingga disabilitas visual. Khusus kelompok tunanetra, mereka akan didampingi oleh guide runner atau body runner di lapangan, yang mana konsep ini dinilai sangat efektif menggabungkan beberapa jenis disabilitas dalam satu trek lari yang sama.

Rute 3K akan mengambil jalur dari RSO menuju Jalan Solo, belok kiri ke Jalan Al Ikhlas, Jalan Duwet Raya, Jalan Garuda Mas, lalu kembali ke Jalan Solo dan finis di RSO. Sementara rute 7,5K akan mengitari rute yang lebih luas, dimulai dari RSO, Jalan Solo, belok kiri ke Jalan Prof. DR. Soeharso, Jalan Adi Sucipto, Jalan Garuda Mas, Jalan Duwet Raya, pindah jalur ke Jalan Garuda Mas, Jalan Solo, dan masuk kembali ke titik finis RSO.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....