Lebih dari 200 Bank Sampah, Solo Perkuat Pengelolaan dari Hulu
- 18 Jun 2026 15:31 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Pemerintah Kota Surakarta terus memperkuat upaya pengurangan sampah dari sumbernya. Langkah ini dilakukan menyusul sanksi administratif dari pemerintah pusat terkait penghentian praktik open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA Putri Cempo.
Setiap hari, sekitar 340 ton sampah masuk ke TPA Putri Cempo. Pemerintah Kota Surakarta menargetkan pengurangan hingga 50 persen melalui gerakan pilah, olah, dan manfaatkan sampah sejak dari rumah.
Kasubag Perencanaan dan Penganggaran Dinas Lingkungan Hidup Kota Surakarta, Elok Ayu Fa’izati, mengatakan perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan sampah.
"Kita sedang bertransformasi dari pola kumpul, angkut, buang menjadi pilah, olah, dan manfaatkan sejak dari sumbernya. Sampah organik menjadi fokus karena jumlahnya mencapai sekitar 64 persen dari total sampah rumah tangga."ungkap Elok Ayu di RRI saat dialog interaktif Kamis 18 Juni 2026.
Elok menjelaskan, pengelolaan sampah organik perlu menjadi perhatian karena menjadi penyumbang terbesar gas metana di TPA yang berpotensi menimbulkan kebakaran dan pencemaran lingkungan.
Dalam upaya tersebut, peran perempuan dinilai sangat strategis. Direktur Bank Sampah Induk Kerja Nyata Surakarta, Denok Marty Astuti, mengatakan perempuan memiliki posisi penting dalam membangun kebiasaan memilah sampah di tingkat keluarga.
Menurut Denok, saat ini telah terbentuk lebih dari 200 bank sampah unit di berbagai wilayah Kota Surakarta. Ke depan, diharapkan setiap RW memiliki minimal satu bank sampah.
"Kami terus mengedukasi masyarakat mulai dari memilah, mengumpulkan hingga mengolah sampah. Tantangannya memang besar, tetapi ketika masyarakat bergerak bersama, sampah yang masuk ke TPA dapat berkurang secara signifikan."
Sementara itu, Tim Penggerak PKK Kota Surakarta juga menggalakkan program “Satu Rumah Satu Aksi Pengelolaan Sampah”. Program ini mendorong setiap keluarga mengelola sampahnya sendiri sebelum dibuang.
Sekretaris Pokja IV TP PKK Kota Surakarta, Neny Nurvita Asri, mengatakan perempuan sebagai pengelola rumah tangga memiliki peran sebagai motor penggerak perubahan perilaku lingkungan.
Selain menjaga kebersihan, pengelolaan sampah juga membuka peluang ekonomi. Berbagai produk hasil daur ulang, mulai dari minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi hingga kerajinan kain perca, telah memberikan nilai tambah bagi keluarga.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, PKK, bank sampah, dunia usaha, dan masyarakat, Kota Surakarta optimistis mampu membangun budaya baru pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. (Lidia)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....