Rupiah Melemah, Indaco Tekan Kenaikan Harga Cat di Bawah 10%

  • 18 Jun 2026 00:20 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Karanganyar - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dipicu oleh krisis energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah mulai berdampak sistemik pada industri manufaktur dalam negeri. Salah satu sektor yang paling merasakan imbasnya adalah industri cat dan produk aerosol akibat melambungnya harga komponen produksi.

CEO PT Indaco Warna Dunia, Iwan Adranacus, menjelaskan mayoritas bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan produk cat berbasis minyak bumi, di mana transaksi pembelian internasionalnya wajib menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.

“Jadi ketika nilai tukar rupiah terhadap US dolar, US dolarnya menguat dan rupiahnya melemah, artinya setiap harga bahan baku per kilogram, per liter yang kami beli juga makin mahal. Namun, alhamdulillah kami bersyukur karena kami punya sistem manajemen yang digital jadi sudah ada buffering system kami untuk memproyeksi kebutuhan kami minimal 3 sampai 6 bulan sehingga sekalipun ada kenaikan, kenaikannya lebih bisa dikendalikan,” kata Iwan Adranacus, Rabu 17 Juni 2026.

Meski memiliki sistem digitalisasi manajemen pasokan yang mampu menahan gejolak harga dalam jangka pendek, lanjut Iwan, penyesuaian harga jual produk cat di tingkat konsumen lokal maupun ekspor tetap tidak dapat dihindari. PT Indaco Warna Dunia mencatat rata-rata penyesuaian harga berkala yang dilakukan masih berada di batas aman dan jauh lebih kompetitif jika dibandingkan dengan pergerakan harga pasar dari para kompetitor.

Iwan menambahkan kebijakan evaluasi harga produk ini ditinjau ulang setiap dua hingga tiga bulan sekali, menyesuaikan pergerakan geopolitik dunia yang bergejolak sejak Maret lalu.

“Kenaikan kami jauh lebih terkendali dibanding kompetitor yang lain, kami rata-rata kenaikannya di bawah 10 persen. Kalau dihitung dari krisis energi pertama yang terjadi dari perang Iran kemarin, ya ini sampai di bulan Mei kami sudah naik tapi enggak sampai 10 persen, nanti dilihat lagi di bulan Juni-Juli,” katanya.

Penyesuaian harga yang tidak terlalu tinggi tersebut sengaja dipertahankan oleh manajemen perusahaan agar tidak membebani daya beli masyarakat yang saat ini diakui sedang mengalami tren penurunan. Langkah taktis ini justru mendatangkan apresiasi positif dari para mitra ritel maupun konsumen akhir di pasar domestik.

Iwan menilai nilai ekonomis dari sebuah produk menjadi faktor penentu yang sangat krusial agar komoditas lokal bisa bertahan di tengah situasi ekonomi yang sulit.

“Di tengah keadaan situasi kondisi ekonomi yang tidak bagus, daya beli masyarakat yang lumayan menurun, tentunya value for money dari harga yang tidak terlalu mahal itu menjadi sangat penting. Penyesuaian harga itu pengaruh sekali ke daya beli yang kami rasakan, sehingga banyak konsumen beralih ke produk kami,” ujarnya.

Berbeda dengan kondisi pasar domestik yang harus menghadapi tantangan daya beli, ceruk pasar global yang berfokus pada perdagangan internasional justru menunjukkan performa yang bertolak belakang. Iwan Adranacus menegaskan PT Indaco Warna Dunia memproyeksikan perluasan jangkauan pasar ekspor akan terus bergerak ke arah yang positif.

“Untuk pasar global saat ini yang kami rasakan karena kami merupakan pemain baru new comer untuk pasar internasional dari jet graffiti aerosol ini, yang kami rasakan pertumbuhannya luar biasa. Kalau pemain-pemain lama mungkin ada penurunan tapi buat kami karena kami baru mendapat entering new market, jadi rasanya malah meningkat di Eropa Timur dan beberapa negara Asia Tenggara,” ujar Iwan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....