Penguatan Nilai Pancasila Penting untuk Menjawab Tantangan Zaman

  • 06 Jun 2026 07:28 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Hari Kesaktian Pancasila telah berlalu. Namun, semangat yang terkandung di dalamnya seharusnya tidak ikut memudar. Di tengah maraknya kasus korupsi, intoleransi, ujaran kebencian di media sosial, hingga lunturnya budaya gotong royong, nilai-nilai luhur Pancasila dinilai semakin menghadapi tantangan dalam kehidupan masyarakat.

Dosen Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta, Dr. Achmad Choerudin, menilai persoalan yang dihadapi bangsa saat ini bukanlah hilangnya Pancasila sebagai ideologi negara, melainkan memudarnya nilai moral dan etika yang terkandung di dalamnya. "Bangsa Indonesia tidak sedang kehilangan Pancasila sebagai ideologi, tetapi berisiko kehilangan roh Pancasila sebagai sistem moral dan etika. Krisis yang terjadi bukanlah krisis konstitusi, melainkan krisis keteladanan," ucap Achmad Choerudin kepada RRI, Senin, 1 Juni 2026.

Menurutnya, para pendiri bangsa merumuskan Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, negara, dan lingkungan sosial. Nilai-nilai tersebut, kata dia, dahulu tercermin dalam budaya gotong royong, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta sikap mengutamakan kepentingan bersama.

Namun, perkembangan teknologi, globalisasi, dan derasnya arus informasi dinilai turut menghadirkan tantangan baru. Berbagai fenomena seperti korupsi, intoleransi, individualisme, perilaku konsumtif, hingga rendahnya penghormatan terhadap sesama menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai Pancasila yang diajarkan dengan praktik kehidupan sehari-hari.

Achmad menjelaskan bahwa setiap sila dalam Pancasila memuat nilai moral yang tetap relevan hingga saat ini. Sila pertama mengajarkan integritas dan tanggung jawab moral, sila kedua menekankan penghormatan terhadap martabat manusia, sementara sila ketiga mengajarkan pentingnya persatuan di tengah keberagaman.

Ia juga menyoroti semakin tajamnya polarisasi sosial dan politik, budaya saling menyerang yang menggantikan musyawarah, serta masih adanya kesenjangan sosial yang menjadi tantangan dalam mewujudkan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut Achmad, penguatan kembali nilai-nilai Pancasila perlu dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat melalui keteladanan serta pembentukan karakter.

"Pancasila harus kembali hadir dalam tindakan sederhana, seperti jujur dalam bekerja, menghormati perbedaan, membantu sesama, menjaga amanah, dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Cindy Aulia, mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Surakarta. Menurutnya, makna Pancasila tidak hanya sebatas dihafalkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

"Menurut saya, makna Pancasila adalah bagaimana kita benar-benar mengimplementasikan setiap sila-silanya, bukan sekadar membacanya saja. Contoh sederhananya, kita saling menghormati dan menghargai orang lain, hidup rukun dengan sesama, bertanggung jawab terhadap apa yang diamanahkan kepada kita, dan juga saling tolong-menolong," kata Cindy.

Menurut Cindy, semangat Hari Kesaktian Pancasila semestinya tidak berhenti setelah peringatan tahunan berakhir. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus terus hidup dan menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

Momentum Hari Kesaktian Pancasila menjadi pengingat bahwa kekuatan Pancasila tidak terletak pada seremoni semata, melainkan pada sejauh mana nilai-nilainya diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya diukur dari kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga dari kualitas moral, etika, dan karakter masyarakatnya. (DR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....