Kementrian UMKM Dorong Hilirisasi Atsiri Lewat Rumah Produksi Bersama
- 21 Mei 2026 20:06 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Karanganyar - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia berkomitmen untuk memperkuat sinergi hilirisasi produk atsiri melalui penguatan rantai pasok yang inklusif. Hal ini disampaikan dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI di Rumah Atsiri Indonesia, Kabupaten Karanganyar, Kamis 21 Mei 2026.
Kementerian UMKM menilai Rumah Atsiri Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi pusat pendidikan dan pelatihan bagi pelaku usaha lokal. Melalui konsep teaching factory, fasilitas ini diharapkan mampu menjadi inkubator bagi UMKM yang ingin mendalami teknik hilirisasi, sebagaimana kesuksesan yang pernah diraih sebelumnya.
Asisten Deputi Bidang Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Ali, menyatakan pihaknya mendorong penguatan kemitraan rantai pasok dengan usaha mikro dan kecil di ekosistem Rumah Atsiri. Ia menekankan pelibatan sektor mikro menjadi instrumen penting agar manfaat ekonomi dari hilirisasi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar kawasan industri.
“Izin Ibu Kepala, Ibu Ketua. Tadi sudah disampaikan, Bapak Staf Ahli memperkuat kemitraan rantai pasok dengan usaha mikro kecil yang ada di ekosistemnya Rumah Atsiri nasional. Kemudian kedua, ini bisa juga menjadi education hub untuk para UMKM yang ingin mengembangkan diri dari sisi hilirisasi,” ujar Ali dalam paparannya.
Kementerian UMKM juga tengah mematangkan rencana untuk mereplikasi ekosistem sukses ini ke berbagai daerah yang memiliki komoditas unggulan serupa. Langkah ini akan mengadopsi skema Rumah Produksi Bersama atau Factory Sharing yang telah berjalan sejak tahun 2022 di beberapa provinsi.
“Untuk terkait atsiri, kami telah membangun Rumah Produksi Bersama di tahun anggaran 2024 di lima kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Aceh Tamiang, dan Kabupaten Gayo Lues,” katanya.
Ali mengungkapkan keberhasilan model Factory Sharing ini terlihat dari lonjakan ekonomi masyarakat di wilayah Aceh, terutama pada komoditas nilam. Harga jual komoditas tersebut di tingkat petani kini mengalami peningkatan drastis berkat ekosistem bisnis yang lebih tertata.
“Saat ini, berkah dari Rumah Produksi Bersama telah menumbuhkan ekosistem bisnis yang menggairahkan masyarakat. Nilam Aceh saat ini harganya Rp1,2 sampai Rp1,7 juta per kilo. Ini sangat luar biasa membantu masyarakat usaha mikro kecil di Aceh,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian UMKM, Sudaryano Rahmaliman, menegaskan kembali pentingnya pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan industri. Menurutnya, aspek keberlanjutan sebuah industri tidak bisa dipisahkan dari keterlibatan warga sekitar.
“Kalau dari kami, Kementerian UMKM melihat ini penguatan terhadap rantai pasok dengan melibatkan masyarakat di sekitar kawasan ini untuk mereka juga bisa melakukan hal yang sama. Agar nantinya model pemberdayaan itu juga bisa nampak dan bisa dirasakan oleh masyarakat,” kata Sudaryano.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....