Piala Ketua PBSI Solo: Wadah Atlet Pemula tanpa Dominasi Klub Besar

  • 06 Mei 2026 19:21 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kota Surakarta menghadirkan konsep kompetisi yang inklusif dengan memisahkan level pertandingan bagi para atlet pemula.

Hal ini diterapkan secara khusus dalam perebutan Piala Ketua PBSI yang dijadwalkan berlangsung setelah partai final Piala Wali Kota.

Kebijakan ini diambil untuk memberikan ruang bagi anak-anak yang baru memulai karier mereka agar tidak merasa terintimidasi oleh pemain senior.

Ketua Umum PBSI Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan, berbeda dengan Piala Wali Kota yang merupakan ajang resmi Kejuaraan Kota, Piala Ketua PBSI melarang keterlibatan klub-klub besar yang dominan.

Klub seperti Jaya Raya Solo, PMS Solo, dan Champion Plate tidak diperkenankan mengirimkan atlet terbaik mereka dalam kategori ini. Tujuannya agar para pemain dari klub kecil memiliki keberanian untuk berkompetisi dan meraih prestasi di tingkat karesidenan.

"Yang besok itu kategori yang bagus-bagus tidak boleh ikut, jadi yang pemula-pemula saja. Klub besar seperti Jaya Raya, PMS, dan Champion Plate tidak diperkenankan ikut supaya yang muda berani kompetisi," ujar FX Hadi Rudyatmo, saat ditemui rri.co.id, di GOR FKOR UNS, Rabu, 6 Mei 2026.

PBSI menyadari bulu tangkis merupakan salah satu cabang olahraga dengan biaya pembinaan yang cukup besar.

Oleh karena itu, pengurus berupaya mencari peluang agar masyarakat dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke klub bulu tangkis tanpa terbebani biaya yang terlalu berat.

Kejuaraan ini menjadi salah satu cara untuk memberikan panggung kompetisi yang terjangkau namun tetap berkualitas bagi warga lokal.

FX Hadi Rudyatmo menekankan fokus utama saat ini adalah membangun kembali minat warga masyarakat agar mau membina putra-putri maupun cucu mereka.

Semangat kompetisi yang dibuka secara berjenjang ini diharapkan mampu menekan rasa takut anak-anak untuk tampil di turnamen resmi. Motivasi dari orang tua dianggap menjadi faktor penentu dalam keberlanjutan pembinaan atlet di klub-klub kecil.

"Pembinaan bulu tangkis itu biayanya cukup besar. Untuk itu kita cari peluang supaya masyarakat tertarik dan tidak terbebani terlalu berat," ujar FX Hadi Rudyatmo. (Dania/MI)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....