Gelaran Mareksa Trailrun 2026

  • 30 Apr 2026 18:45 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Bernapaskan wisata dan sejarah peradaban, Mareksa Trailrun menjadi pembeda dari event olahraga lainnya. Selain olahraga fisik, Mareksa Trailrun juga membawa pesertanya untuk semakin mandalami makna kehidupan dimasa lampau.

Dari rilis Dinas Pariwisata, Pemuda dan olahraga Karanganyar, gelar ini dilaksanakan 26 April 2026 di kawasan Candi Cetho, Jenawi, Karanganyar. Mareksa Trailrun 2026 hadir dan menawarkan perpaduan antara tantangan fisik, wisata yang menyatu dengan keindahan alam, serta menapaki tilas peradaban Karanganyar di masa lalu. Tak ayal, event ini menjadi magnet bagi para pecandu olahraga lari.

Berlokasi di kawasan perbukitan yang asri kawasan Candi Cetho, menjadikan Mareksa Trailrun 2026 memiliki titik start dan finish tertinggi di Karanganyar. Rute pun terbilang variatif, mulai dari jalur tanah, perkebunan, hingga tanjakan dan turunan yang menguji kekuatan fisik dan strategi pelari.

Tiap kilometernya menawarkan berbagai macam keindahan seperti kabut lembut khas pegunungan, sorot matahari yang menerjang pepohonan, hingga luasnya lembah hijau yang memukau. Tak hanya keindahan alam, event ini pun seakan memaksa kita menengok ke belakang, jauh ratusan tahun yang lalu, untuk mengingatkan betapa agungnya peradaban Karanganyar melalui Candi Cetho, bangunan yang didirikan pada tahun 1.450an.

Dengan begitu, para pelari diharapkan pula untuk dapat mengilhami sisa sejarah, Mahakarya peninggalan Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sehingga filosofi kehidupan yang sarat makna di masa lalu, bisa dibawa ke masa sekarang.

Sebagai bagian dari pengembangan pariwisata berbasis olahraga, Mareksa Trailrun 2026 adalah trobosan untuk para pecinta olahraga lari. Event ini menawarkan tantangan fisik, keindahan alam yang masih terjaga, kehidupan masyarakat setempat yang hangat, serta sejarah bangsa kita sebagai bangsa yang besar dan maju dalam peradaban.

Mareksa Trailrun 2026 bukan sekadar olahraga lari naik turun gunung, melainkan perjalanan tentang melampaui batas antara lelah dan rebah. Rasa panas keringat dan sejuk udara pun menyeruak menjadi satu di Bumi Intanpari. (Rifqi Nadhif)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....