Reuni Doreng Lawas, Bangkitkan Militansi Kader Pemuda Pancasila 1994
- 01 Apr 2026 17:34 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Karanganyar - Sejumlah kader senior Pemuda Pancasila Kabupaten Karanganyar era pendirian tahun 1994 berkumpul kembali dalam ajang reuni bertajuk “Doreng Lawas” di Cafe Dadap Serep, Lalung, Karanganyar. Pertemuan ini menjadi momentum emosional untuk menghidupkan kembali semangat juang dan jiwa korsa para perintis organisasi yang kini telah memasuki usia senja.
Mantan Ketua Pemuda Pancasila Karanganyar era 1994, RM Sasetyo Hartawan atau yang akrab disapa Theo, mengenang masa-masa sulit saat organisasi ini pertama kali menancapkan bendera di Bumi Intanpari. Ia menyebut kelahiran Pemuda Pancasila di Karanganyar tidaklah mudah karena harus berhadapan dengan tekanan politik dan birokrasi yang cukup kuat pada masa itu.
“Semua yang hadir ini adalah pelopor, pendiri, dan pejuang yang dulu berjuang mendirikan Pemuda Pancasila di Karanganyar. Dulu kami mendapat benturan dari pihak yang didukung kekuatan politik tertentu yang tidak menginginkan kehadiran kami,” ujar Theo, Rabu 1 April 2026.
Theo menceritakan legitimasi organisasi baru didapat setelah digelarnya pertemuan besar di Gedung Pepabri yang dihadiri sekitar 100 tokoh masyarakat. Berkat dukungan dari berbagai pihak, termasuk unsur militer saat itu, kepengurusan pertama resmi terbentuk dan mulai menjalankan roda organisasi secara mandiri.
“Hasilnya, dukungan bulat diberikan kepada saya sebagai ketua. Dari situlah Pemuda Pancasila mulai berdiri di Karanganyar. Semua dilakukan secara mandiri, tidak ada dana operasional, jadi kami bergerak sendiri termasuk berjualan stiker dan seragam,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Theo juga menyampaikan apresiasi kepada para penerus kepemimpinan, mulai dari era almarhum Budi Big, Paryono, hingga Disa Ageng Alifven yang memimpin saat ini. Ia berpesan agar generasi muda tidak terjebak pada pragmatisme materi dan tetap mengedepankan nilai persaudaraan.
“Sekarang banyak yang mengukur segalanya dengan uang dan kepentingan. Tapi jangan sampai kita kehilangan persaudaraan dan kejujuran. Itu yang membuat kita kuat sejak tahun 1994 hingga hari ini,” kata Theo.
Sementara itu, Kisah kerasnya perjuangan juga diamini oleh mantan Komandan Koti, Agus Pramono Jati atau Bereng. Ia mengenang bagaimana pendidikan dan latihan dasar atau diksar Komando Inti Mahatidana dilakukan dengan sangat disiplin dan fisik yang berat demi membentuk karakter kader yang tangguh.
“Dulu saya sampai lari bertelanjang dada saat diksar. Kalau diingat sekarang terasa berat, tapi saat itu dijalani saja karena rasa cinta terhadap organisasi. Keterbatasan dana justru membuat kami nekat berjualan atribut untuk menjaga organisasi tetap berjalan,” ujar Bereng.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....