Warga Desa Sruni Musuk Boyolali Gelar Konvoi Sapi dan Kambing Keliling Kampung

  • 28 Mar 2026 22:36 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali - Ratusan warga Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, menggelar tradisi arak-arakan sapi serta kambing keliling kampung yang menjadi warisan leluhur dalam tradisi syawalan di lereng Gunung Merapi, Sabtu 28 Maret 2026..

Tradisi yang rutin digelar ini diawali dengan kenduri (makan bersama) di jalan perkampungan kemudian dilanjutkan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur masyarakat setempat. Warga membawa berbagai hidangan khas untuk didoakan bersama sebelum prosesi utama dimulai.

Setelah kenduri, arak-arakan sapi pun dilakukan dengan mengelilingi desa. Sapi-sapi yang telah di kalungkan ketupat pada lehernya dan diberi wewangian tersebut diiringi warga dengan penuh semangat dan kebersamaan. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antar warga.

Warga berharap tradisi arak-arakan sapi ini dapat terus dilestarikan oleh generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Ini sudah menjadi tradisi dari turun temurun warga di sini, tadi pagi pagi kenduri dulu sama warga lainnya. Setelah itu, pulang mengalungkan ketupat pada sapi, dan memberi minyak wangi selanjutnya di bawa kumpul ditengah kampung, " ujar Warjuli warga setempat.

Warjuli mengungkapkan, ternak yang sudah diberikan wewangian dan dikalungkan ketupat selanjutnya dipertemukan dengan ternak sapi yang lainnya agar silaturahmi, agar diberikan kesehatan dan diberikan keturunan yang banyak.

"Ini sudah menjadi tradisi dari dulu sebelum saya lahir. Sapi ditemukan dengan yang lainnya agar silaturahmi dan sehat," ungkapnya.

Tokoh masyarakat setempat Marjono menyebutkan, bahwa tradisi ini merupakan bentuk syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rejeki melalui ternak sapi maupun kambing.

"Tradisi ini diawali dengan memandikan sapi, domba maupun kambing, kemudian diberikan wewangian, dikalungkan ketupat, kenduri ketupat kemudian diarak keliling kampung. Ini karena bentuk rasa syukur warga," katanya Sabtu .

Ia mengatakan, kenduri ketupat tersebut memiliki makna dan mengandung filosofi Jawa mengaku lepat (salah) yang artinya mau andapasor dan mengakui kesalahannya dan berbudi luhur.

"Kalau disini kan mayoritas penduduknya sebagai ternak hewan sapi, dan sebagai petani. Ya mengarak sapi ini agar sapinya sehat nantinya bisa bertambah banyak dijauhkan dari penyakit," pungkasnya.

Selain memiliki nilai sejarah dan religius, tradisi ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luar daerah yang ingin menyaksikan kearifan lokal di Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali. (Kisno/Rill)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....