Momentum Hari Besar Berdekatan, Solo Perkuat Predikat Kota Toleran

  • 17 Mar 2026 21:41 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Kota Surakarta menghadapi momentum unik pada kalender keagamaan tahun 2026, di mana perayaan hari besar lintas iman jatuh dalam waktu yang hampir bersamaan.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surakarta, Muhammad Mashuri, mencatat awal Ramadan tahun ini beriringan dengan Tahun Baru Imlek, sementara puncaknya bersinggungan dengan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Kondisi ini dipandang sebagai momentum emas bagi warga Kota Bengawan untuk melatih kedewasaan dalam berbagi ruang publik dan waktu demi menjaga keharmonisan antarumat beragama.

Mashuri meminta umat Islam sebagai mayoritas untuk menunjukkan tenggang rasa yang tinggi, terutama saat ritual keagamaan lain sedang berlangsung di lingkungan sekitar. Ia mengingatkan agar kegiatan seperti takbiran keliling atau perayaan massal lainnya tetap menghormati kekhusyukan umat Hindu yang tengah menjalankan Nyepi.

Perbedaan penetapan hari besar tidak perlu dijadikan persoalan, karena saling menghargai merupakan kewajiban setiap warga negara dalam bingkai kebinekaan yang sudah lama mengakar di tengah masyarakat Jawa yang luwes.

"Waktu awal Ramadan bersamaan dengan Imlek, kita dilatih untuk berbagi waktu dan berbagi space. Kemudian di akhir Ramadan ini bersamaan dengan Nyepi, kita harus menghormati saudara kita umat Hindu," ujar Muhammad Mashuri, Selasa, 17 Maret 2026.

Selain aksi nyata di lapangan, FKUB juga mewanti-wanti masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu liar yang sering muncul di media sosial. Menurutnya, oknum tidak bertanggung jawab kerap memanfaatkan perbedaan penetapan awal puasa atau lebaran untuk membenturkan antar-kelompok. Masyarakat diharapkan lebih selektif dalam menyaring informasi dan tidak menanggapi narasi negatif yang berusaha mengganggu kondusivitas kota. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan perdamaian yang selama ini telah menjadi ciri khas Solo.

Sebagai langkah konkret jangka panjang, FKUB telah merencanakan program edukasi toleransi hingga ke tingkat akar rumput di seluruh wilayah Surakarta. Setelah hari raya Idulfitri nanti, tim akan turun langsung ke 54 kelurahan untuk menyosialisasikan moderasi beragama dan wawasan kebangsaan. Langkah proaktif ini diambil untuk memastikan semangat kerukunan tidak hanya berhenti di level pimpinan organisasi, melainkan menyerap ke dalam karakter asli setiap individu sebagai saudara sebangsa dan setanah air.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), Sumartono Hadinoto, menilai indahnya harmoni tersebut dapat dilihat secara visual di kawasan Balai Kota Solo melalui dekorasi lampion lintas iman. Keberadaan lampion Natal, Imlek, hingga Idulfitri yang terpasang bergantian merupakan bentuk percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia.

Martono menegaskan spiritualitas sejati bukanlah sekadar teori religi yang diperdebatkan, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling mengasihi tanpa memandang latar belakang.

"Spiritual itu bukan sekadar teori religi, tapi praktiknya dalam kehidupan sehari-hari. Damai itu tidak bisa hanya disuarakan atau dijadikan semboyan, damai itu harus kita upayakan bersama," kata Sumartono.

Menurutnya, mempertahankan Solo sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia bukanlah pekerjaan ringan. Sebab, menurunnya toleransi juga erat kaitannya dengan menjaga perdamaian. Upaya nyata tersebut bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti saling menghargai, menekan prasangka, dan ikut bersukacita mendukung perayaan hari besar saudara beda keyakinan.

"Nanti kalau ini semua sudah menjadi budaya di dalam diri kita masing-masing, toleransi bukan lagi sesuatu yang sulit dilaksanakan. Semakin tinggi toleransinya, kebiasaan hidup damai dalam kebinekaan ini akan membuat Indonesia menjadi luar biasa," ucapnya menambahkan. (Dania)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....