Bau Busuk Teror Warga Sragen Kota, Ganggu Ibadah Ramadan-Aktifitas Ekonomi

  • 14 Mar 2026 22:07 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sragen: Aroma Busuk beberapa pekan terakhir menyeruak di kawasan Kota Sragen. Bau bus mirip has amoniak itu hingga mengganggu ibadah di Masjid Al-Falah dan kawasan publik hingga pusat ekonomi Pasar Bunder dan Pasar Kota Sragen.

Masyarakat menduga aroma busuk tersebut dari pengelolaan limbah Pabrik Gula (PG Mojo) Sragen.

Pantauan di lapangan, jemaah Salat Jumat di Masjid Raya Al-Falah Sragen 13 Maret siang bau busuk sangat terasa. Tak sedikit jemaah sampai menggunakan masker. Bau tak sedap itu semakin parah jika angin berhembus kencang dari arah selatan.

Kondisi ini membuat ibadah benar-benar tidak nyaman. Pencemaran udara itu ternyata bukan sehari dua hari saja. Pengelola Masjid Raya Al-Falah Sragen menyebut sudah berminggu-minggu.

Luthfi, salah satu Pengurus Masjid Al-Falah Sragen, mengonfirmasi bahwa bau busuk tersebut telah dirasakan sejak awal bulan Ramadan. Menurutnya, intensitas bau tersebut sangat kuat sehingga upaya memberikan pengharum ruangan di masjid pun menjadi sia-sia.

"Pabrik gulanya ini memang baru selesai produksi besar-besaran. Akhirnya menjadikan limbah ini bau sekali ke masjid. Masjid Al-Falah ini mau dibuat parfum apa pun juga kalah baunya, Masyaallah," keluh Luthfi saat memberikan keterangan kepada awak media.

Luthfi menambahkan bahwa dampak lingkungan ini sangat luas dan mengganggu roda ekonomi di pasar.

"Ternyata Pasar Sragen juga kacau sekali. Kalau masuk ke pasar itu baunya kacau sekali dan merugikan banyak orang. Kami sedang berikhtiar untuk melobi pihak pabrik agar masalah ini bisa ditangani semaksimal mungkin supaya tidak merugikan orang lain," ucapnya menerangkan.

Ia menyebutkan bahwa kondisi saat ini sudah sedikit membaik dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang jauh lebih menyengat.

Kondisi aktivitas Pabrik Gula PG Mojo Kabupaten Sragen. (Foto: RRI/Mulato Ishaan)

Menanggapi keluhan masyarakat, Samuel Mahendra dari Bagian Keuangan PG Mojo memberikan klarifikasi. Ia membenarkan bahwa aroma kurang sedap tersebut berasal dari tumpukan sisa produksi yang dikenal oleh masyarakat sebagai "blotong".

Samuel menjelaskan bahwa tumpukan tersebut sebenarnya sudah ada sejak musim giling tahun lalu di halaman depan pabrik. Namun, proses pengelolaannya terkendala oleh faktor cuaca.

"Timbunan itu sudah lama sejak giling kemarin. Kenapa baru dikelola sekarang? Karena kemarin intensitas hujan cukup tinggi, sehingga harus ditampung dulu di halaman depan. Saat ini cuaca mulai panas, baru bisa kami kelola bersama mitra kami, Paguyuban Masyarakat Mojo Bersatu (PMP)," kata Samuel.

Lebih lanjut, Samuel menjelaskan bahwa pihak pabrik tengah melakukan relokasi limbah tersebut ke halaman belakang. Hal ini dilakukan karena halaman depan akan digunakan untuk mengakomodasi kegiatan kearifan lokal menjelang musim giling baru, yakni tradisi Cembengan atau Buka Giling.

"Kami tidak bisa menolak cuaca hujan yang kemarin memicu dampak bau tersebut. Saat ini kami sudah berupaya menanganinya dengan pemindahan ke belakang dan pengolahan lebih lanjut. Sekarang baunya sudah banyak berkurang," katanya mengklaim.

Meskipun menimbulkan aroma tidak sedap jika terpapar air hujan dalam waktu lama, Samuel menekankan bahwa limbah blotong tersebut memiliki nilai manfaat bagi sektor pertanian.

"Sebenarnya blotong ini biasanya diolah menjadi pupuk organik. Jadi ada manfaatnya untuk petani yang bisa diterima dan dipergunakan kembali di lahan mereka," ucap Samuel.

Hingga saat ini, warga dan jamaah Masjid Al-Falah berharap proses relokasi dan pengolahan limbah dapat diselesaikan secepatnya agar aktivitas ibadah dan perdagangan di pusat kota Sragen kembali nyaman tanpa gangguan aroma menyengat. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....