Pemdes Gading Bantah Peternakan BUMDes Jadi Pemicu Teror Jutaan Lalat

  • 11 Mar 2026 17:08 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN – Warga di Dukuh Tegalmulyo dan Camplangan, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, mengeluhkan teror jutaan lalat yang masuk ke pemukiman dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah Desa (Pemdes) Gading mengklarifikasi terkait dugaan sumber lalat yang dituding berasal dari kandang ayam petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gading.

Kades Gading, Puryanto, membenarkan adanya peningkatan populasi lalat di wilayahnya selama beberapa hari terakhir. Namun, ia menyayangkan adanya anggapan warga yang seolah-olah menyudutkan satu titik lokasi sebagai penyebab utama.

Puryanto menjelaskan bahwa di Desa Gading terdapat sekitar 10 titik kandang ayam, baik ayam petelur maupun ayam potong (pedaging). Ia menilai faktor cuaca dan musim buah menjadi pemicu alami meledaknya populasi lalat secara umum, bukan semata-mata karena keberadaan kandang.

"Lalat itu kan musimnya musim buah dan musim hujan, jadi datang dari mana-mana. Warga ada yang menjadikan kandang BUMDes sebagai kambing hitam, padahal di Gading itu banyak kandang, ada 10 tempat," ujar Puryanto saat dikonfirmasi, Rabu 11 Maret 2026.

Kandang ayam petelur milik BUMDes Gading tersebut diketahui menempati lahan atau kandang milik pribadi Kades Puryanto dengan sistem sewa. Ia menegaskan bahwa kondisi di dalam kandang tersebut sejatinya bersih dari lalat.

"Saya sampaikan ke warga, kalau lalat sumbernya dari tempat saya, coba dilihat di kandang saya ada lalatnya tidak? Di kandang saja bersih. Kalau memang sumbernya di sana, seharusnya di kandang itu yang paling banyak," ujar Puryanto.

Meski menampik sebagai sumber utama, pihak pengelola BUMDes Gading tetap melakukan langkah responsif demi kenyamanan warga. Puryanto menyebutkan bahwa sejumlah upaya preventif dan kuratif telah dijalankan dalam beberapa hari terakhir.

Pengelola BUMDes telah melakukan penyemprotan lalat, baik di area kandang maupun di lingkungan pemukiman warga. Bahkan kotoran ayam kini tidak lagi ditumpuk di area kandang dalam waktu lama.

"Kita langsung buang atau dikeluarkan untuk meminimalisir potensi perkembangbiakan lalat," ujarnya.

Pihak desa telah menginstruksikan Ketua RT setempat untuk melakukan penyemprotan rutin setiap tiga hari sekali dengan obat yang disediakan oleh BUMDes.

"Dua hari ini saya sudah keliling bersama Kasi Pemerintahan dan Pak Bayan. Saya tanya ke warga, mana lalat yang baru? Karena laporan yang masuk itu kejadian 4 hari lalu. Sekarang kondisinya sudah 80 persen hilang," kata Puryanto.

Puryanto menyampaikan, bahwa usaha ayam petelur ini merupakan bagian dari program Ketahanan Pangan yang dicanangkan pemerintah pusat sekaligus sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) melalui BUMDes. Ia berharap masyarakat bisa lebih objektif dan saling mendukung demi kesejahteraan bersama.

Terkait laporan yang sampai ke tingkat kecamatan maupun media massa, Kades Gading mengaku tetap kooperatif. Namun, ia meyakini bahwa penanganan paling efektif adalah melalui tindakan langsung dari pengelola di lapangan.

"Ini untuk kesejahteraan masyarakat dan program ketahanan pangan. Kami sudah berusaha maksimal mengobati dan membersihkan. Kalau sudah tidak musim hujan, biasanya lalat juga akan hilang dengan sendirinya," ujarnya. MI

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....