Jutaan Lalat Teror Warga Gading Sragen, Diduga dari Kandang Ayam BUMDes

  • 10 Mar 2026 14:46 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, SRAGEN – Warga Dukuh Tugu Mulyo dan Dukuh Camplangan, Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, mulai kehilangan kesabaran. Selama hampir tiga bulan terakhir, pemukiman mereka diserbu jutaan lalat yang diduga kuat bersumber dari kandang ayam petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gading.

Kondisi yang kian memprihatinkan ini membuat aktivitas ekonomi dan kesehatan warga terganggu. Keluhan warga bukan tanpa alasan; keberadaan ribuan serangga ini membuat lingkungan menjadi tidak higienis dan merugikan usaha lokal.

Baca juga: Ini Jawaban Kades Gading Atas Serangan Lalat yang Dikeluhkan Warganya

Hendri Cahyono Saputra (41), warga RT 10 Dukuh Tugu Mulyo yang tinggal hanya 20 meter dari lokasi kandang, mengungkapkan betapa parahnya kondisi saat ini. Ia menyebut jutaan lalat tersebut menempel di mana-mana, mulai dari makanan hingga pakaian hasil jahitan miliknya.

"Dampaknya luar biasa, terutama di makanan jadi tidak higienis. Nasi, lauk-pauk, sayur, semua dikerubuti lalat. Kalau malam tidur, lampu harus dimatikan total, kalau tidak lalat nempel di badan," keluh Hendri saat diwawancarai Selasa 10 Maret 2026.

Hendri yang bekerja sebagai penjahit juga mengeluhkan kain-kain miliknya dipenuhi bintik hitam akibat kotoran lalat. Warung-warung makan di sekitar lokasi pun mulai sepi pembeli karena pelanggan merasa jijik dengan pemandangan tersebut.

Menurut warga, wabah lalat ini muncul seiring dengan beroperasinya kandang ayam petelur yang dikelola oleh BUMDes Gading. Kandang tersebut berada di tengah pemukiman warga dan dihuni sekitar 1.000 ekor ayam.

Warga mencatat perbedaan signifikan antara kandang ayam potong (pedaging) yang sudah menggunakan sistem blower dengan kandang ayam petelur baru ini.

"Semenjak kandang ayam petelur itu ada, lalat baru timbul sebanyak ini. Secara logika, ya kandang itu penyebabnya. Sebelumnya ada kandang ayam potong dan MBG, tapi lalatnya tidak seperti ini, masih bisa dimaklumi karena sistemnya beda," tegas Hendri.

Upaya mediasi telah dilakukan berkali-kali namun belum membuahkan hasil. Laporan ke tingkat RT hingga Kecamatan Tanon dirasa warga tidak berjalan efektif. Pihak pengelola kandang dan BUMDes dinilai hanya memberikan janji tanpa aksi nyata di lapangan.

Hendri menceritakan pertemuannya dengan Ketua BUMDes Gading, Sujiono, pada malam sebelumnya yang justru berakhir dengan ketegangan. Alih-alih mencari solusi, pihak pengelola justru dituding menantang warga dengan alasan bahwa jika kandangnya ditutup, kandang lain di wilayah tersebut juga harus ditutup.

"Tadi malam saya nemui Ketua BUMDes. Katanya mau diusahakan, tapi saya tanya sampai kapan? Sudah tiga bulan seperti ini. Bahkan ada kesan kami ditantang karena menyangkut pihak-pihak tertentu di desa," tambahnya.

Warga dari dua dukuh (Tugu Mulyo dan Camplangan) yang mencakup sekitar 80 Kepala Keluarga (KK) kini memberikan ultimatum keras. Mereka mengajukan dua tuntutan utama kepada pihak pemerintah desa dan BUMDes.

Pihak kandang harus segera melakukan penyemprotan dan pemberian obat lalat yang efektif hingga populasi lalat berkurang drastis. Jika dalam jangka waktu satu minggu tidak ada perubahan nyata, warga akan melakukan aksi massa ke tingkat Kabupaten Sragen untuk menuntut penutupan permanen kandang tersebut.

"Kami kasih tenggang waktu satu minggu. Kalau tidak ada solusi, kami terpaksa melakukan aksi ke Sragen. Ini bukan tuntutan pribadi, tapi hasil koordinasi dengan warga terdampak. Pilihannya cuma dua: lalat bisa dikendalikan atau kandang ditutup," ujar Hendri.

Terpisah Kasi Trantib Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen, Lanjar mengkonfirmasi adanya laporan serangan lalat dari warga Desa Gading. Tindak lanjut dari laporan tersebut pihaknya sudah dua kali koordinasi dengan pihak Pemerintah Desa, bahkan sempat melibatkan BUMDES termasuk RT/RW dan warga.

"Ya, istilahnya dapat keterangan dari desa bahwa untuk penyelesaian itu pengelola kandang. Tapi dari pelapor istilahnya belum puas. Nah itu kan kalau kita sudah koordinasi dengan desa dan pengelola mengurangi dampak lalat itu dengan membersihkan kandang, melakukan penyemprotan gitu," ucap Lanjar.

Warga kini masih menunggu respon konkret dari Pemerintah Desa Gading maupun pengelola BUMDes untuk menyelesaikan konflik lingkungan yang kian memanas ini. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....