Disdik Solo Waspadai Siswa Konsumsi Obat Parkinson Secara Ilegal
- 02 Mar 2026 13:47 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Dinas Pendidikan Kota Surakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena penyalahgunaan obat medis jenis trihexyphenidyl di kalangan pelajar jenjang sekolah menengah pertama. Obat yang seharusnya diperuntukkan bagi penderita penyakit Parkinson tersebut ditemukan dikonsumsi sejumlah siswa untuk mendapatkan efek tenang secara instan. Hal ini menjadi perhatian serius otoritas pendidikan.
Kasi SMP Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Anik Indriyani, menjelaskan secara medis obat tersebut tidak masuk dalam kategori zat adiktif jika digunakan sesuai dosis pengobatan. Namun, dampak negatif muncul ketika zat tersebut dikonsumsi oleh anak-anak yang dalam kondisi sehat. Tanpa pengawasan medis, penggunaan obat ini dapat merusak metabolisme dan mengganggu fokus belajar siswa di sekolah.
"Sebenarnya yang dikonsumsi itu trihexyphenidyl, untuk orang sakit Parkinson agar merasa tenang. Namun, ketika dikonsumsi anak-anak dalam kondisi tidak sakit, itu menjadi tidak benar. Kami terus melakukan pencegahan agar hal ini tidak meluas," ujar Anik, saat dihubungi rri.co.id, Senin, 2 Maret 2026.
Menyikapi temuan tersebut, Dinas Pendidikan telah berkoordinasi intensif dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui peluncuran program Sekolah Bersinar atau Sekolah Bersih Narkoba. Selain itu, Dinas Pendidikan juga telah menerbitkan surat edaran mengenai integrasi kurikulum anti-narkoba yang wajib diterapkan mulai dari jenjang PAUD, SD, hingga SMP. Langkah preventif ini bertujuan memberikan pemahaman sejak dini kepada siswa mengenai bahaya peredaran gelap obat terlarang.
Berdasarkan pemetaan di lapangan, sebagian besar kasus yang ditemukan masih dalam kategori coba-coba akibat pengaruh teman sebaya. Meski demikian, ditemukan pula kasus yang sudah masuk tahap ketergantungan sehingga memerlukan perawatan jalan. Minimnya perhatian serta adanya masalah di lingkungan keluarga disinyalir menjadi faktor utama yang memicu siswa mencari pelarian melalui penyalahgunaan obat-obatan tersebut.
Sebagai langkah konkret bagi siswa yang terindikasi, Disdik bekerja sama dengan unsur TNI dan Polri untuk memberikan pembinaan kedisiplinan. Di SMP Negeri 11 Surakarta misalnya, siswa yang terlibat diwajibkan mengikuti apel pagi khusus untuk pembinaan mental. Namun, bagi siswa dengan tingkat ketergantungan yang sudah parah, Dinas Pendidikan mewajibkan mereka fokus menjalani rehabilitasi total hingga sembuh sebelum diizinkan kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.
"Kami mengharapkan anak yang sudah parah untuk di-rehab dulu sampai sembuh, baru nanti lanjut sekolah karena dia harus fokus total menyembuhkan ketergantungan. Peran keluarga sangat dibutuhkan dalam pengawasan ini agar anak-anak tidak salah pergaulan," kata Anik. (Dania)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....