Semarak Ramadan, Masjid At-Taqwa Bhayangkara Gelar Bukber dengan Ustadz Ki Pujiono

  • 02 Mar 2026 11:51 WIB
  •  Surakarta

RRI CO ID Surakarta – Masjid At-Taqwa Perumahan Bhayangkara, Siswodipuran, Kabupaten Boyolali menggelar kegiatan Semarak Ramadan dengan agenda buka puasa bersama yang menghadirkan penceramah kondang, Ustadz Ki Pujiono.

Kegiatan berlangsung khidmat dan dihadiri tokoh masyarakat, sesepuh kampung, serta warga Perumahan Bhayangkara, Minggu 1 Maret 2026 sore.

Dalam sambutannya, pengurus Masjid At-Taqwa, Agus Prawoto, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan rutin Ramadan tersebut.

“Alhamdulillah, atas izin Allah SWT kita dapat kembali melaksanakan agenda Semarak Ramadan berupa buka bersama di Masjid At-Taqwa,” ujarnya.

Kehadiran Ustadz Ki Pujiono menjadi bagian dari dakwah kultural, yakni menyampaikan nilai-nilai Islam melalui pendekatan budaya seperti wayang golek pitutur.

Menurut Agus, media wayang memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan moral, pembentukan karakter, serta ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW dengan cara yang lebih mudah dipahami masyarakat.

“Wayang pada dasarnya menjadi sarana penyampaian informasi dan nilai-nilai adiluhung tentang kepribadian yang baik. Karena itu, kami sangat mendukung pelaksanaan dakwah melalui pendekatan budaya ini,” tambahnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi magnet bagi warga Kampung Bhayangkara dan sekitarnya untuk semakin memakmurkan masjid. Selain itu, momentum Ramadan tersebut juga dimanfaatkan untuk mempererat kebersamaan dan menjaga kekompakan antar warga.

Suasana Semarak Ramadan semakin hidup dengan penampilan dalang sekaligus ustaz, Ki Pujiono, yang membawakan lakon perjuangan Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak.

Dalam pementasan wayang golek pitutur tersebut, Ki Pujiono mengangkat kisah perjuangan Sultan Trenggana—yang juga dikenal sebagai Sultan Tenggono—pemimpin Kesultanan Demak yang membawa kejayaan hingga ke wilayah Jayakarta, Pasuruan, Lamongan, dan sejumlah daerah lain di Pulau Jawa.

Di sela kegiatan, Ki Pujiono menjelaskan alasan dirinya memilih wayang sebagai media dakwah. Menurutnya, penyampaian nilai-nilai Islam akan lebih mudah diterima masyarakat apabila dikemas melalui seni.

“Kadang-kadang kita ingin menyampaikan nilai-nilai itu dengan kemasan seni. Dengan kemasan yang santai dan segar, orang lebih rileks sehingga pesan bisa diterima dengan mudah,” ujarnya.

Menariknya, wayang yang digunakan bukan wayang kulit khas Jawa, melainkan wayang golek yang telah dimodifikasi. Ki Pujiono menghadirkan tokoh-tokoh berkarakter seperti kiai, sultan, dan raja-raja yang memiliki peran penting dalam sejarah dakwah Islam di Nusantara.

Pendekatan ini dinilai menjadi alternatif syiar Islam, khususnya bagi generasi muda agar lebih tertarik mengenal sejarah perjuangan tokoh-tokoh Islam.

Pementasan tersebut mendapat sambutan antusias dari jamaah. Selain menjadi hiburan religi di bulan suci, pertunjukan wayang golek itu juga menjadi sarana edukasi sejarah Islam yang dikemas secara kreatif dan inspiratif. (Kisno/Rill)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....