Mbah Jami, Pemulung Asal Colomadu Bertekad Tetap Menjalankan Ibadah Puasa
- 27 Feb 2026 11:11 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Bagi Mbah Jami (43) warga RT 03 RW 03 Dusun Nanasan Malangjiwan Colomadu Karanganyar, pekerjaan menjadi pemulung sudah dijalani sekitar 5 tahun terakhir atau tepatnya sejak tahun 2021.
Sebagai pemulung Mbah Jami mencari beberapa barang yang dianggap dapat dijual di pengepul, seperti kardus, dan botol bekas.
Meski pendapatan yang dikumpulkan bukan harian namun penghasilan dari pemulung yang didapat perminggu sekitar 700.000 itu sudah lebih dari cukup dan dapat menghidupi suami yakni Mbah Pardi yang saat ini berusia 75 tahun.
Mbah Jamie sendiri merupakan istri kedua dari Mbah Pardi yang resmi menikah pada tahun 2020.
“Senang juga menjalani pekerjaan sebagai pemulung yang sehari-hari harus berjalan kaki dari rumah ke rumah untuk mencari beberapa barang yang dapat dijual ke pengepul,” ujar dia, Rabu 25 Februari 2026.
Kendati pekerjaan yang dijalani itu cukup berat dan harus berjalan kaki namun di bulan Ramadan ini Mbah Jami tetap menjalankan ibadah puasa.
“Selama memulung saya tetap menjalankan ibadah puasa, hingga saat ini belum pernah batal, Insya Allah. Sebab memulung tidak saya lakukan satu hari penuh,” ujar Mbah Jami.
Pada bulan Ramadan ini Mbah Jami selain menjalankan ibadah puasa juga tetap menjalankan ibadah salat lima waktu, termasuk salat tarawih di Mushola dekat rumahnya.
“Saya memulung hanya dari pagi hingga siang sehingga salat Luhur hingga salat Isya dilakukan di rumah dalam kondisi badan sudah bersih,” katanya.
Selain salat lima waktu, Mbah Jami juga rajin mengikuti pengajian di Sumur Bor Colomadu pada hari-hari tertentu.
“Untuk hari tertentu Jumat dan Minggu pagi saya ikut pengajian dulu, jadi berangkat memulungnya agak siangan,” kata dia.
Saat memulung Mbah Jami sering mendapatkan berkah salah satunya sering mendapatkan bingkisan dari warga yang dikenalnya. Tidak hanya itu bahkan Mbah Jami sering mendapatkan nasi bungkus yang cukup banyak.
Akibatnya nasi bungkus pemberian dari beberapa warung makan di sekitar tempat memulung itu harus diberikan kepada tetangganya atau jalan yang dilalui menuju rumahnya.
Bahkan tidak jarang di sepanjang jalan yang dilalui menuju rumahnya, terkadang ada saja warga yang terang-terangan meminta nasi bungkis atau jajan yang dibawanya.
“Saat memulung terutama di warung, saya selalu mendapat nasi bungkus, kue, jajan bahkan sering juga mendapat sembako dari warga. Jadi saya jarang masak. Untuk nasi bungkus selalu saya bagikan kepada tetangga. Kadang ada dari warga yang terus terang menjegat di jalan dan meminta nasi bungkus” katanya.
Perjuangan dalam memulung yang tidak meninggalkan puasa dan salat lima waktu juga mendapatkan apresiasi dari salah satu warga Dusun Nanasan Malangjiwan yakni Ibu Puryani yang juga menjadi langganan tetap Mbah Jami terutama untuk sampah kering seperti kardus dan botol bekas.
“Ya, saya salut dan acungi jempol buat Mbah Jami yang tetap bertekad untuk menjalankan puasa meski pekerjaan yang dijalani cukup berat,” ujar dia.
Itulah Mbah Jami yang harus berjuang demi menghidupi sang suami yang sering sakit-sakitan dan terkadang pula dia juga harus beristirahat lantaran sakit dan terlalu semangat dalam memulung.
“Kalau sakit saya sering, tapi hanya sakit ringan karena kecapean. Dan sakit yang paling berat saya pernah opname di rumah sakit AURI Colomadu,” katanya. (Edwi)
Kata Kunci / Tags
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....