Riset Doktor UNS Pastikan Stasiun Baterai Listrik Aman
- 06 Feb 2026 17:12 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Meningkatnya penggunaan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) memunculkan tantangan baru terkait keandalan infrastruktur pendukungnya. Menjawab kekhawatiran masyarakat, Mahasiswa Program Doktor (S3) Teknik Industri Universitas Sebelas Maret (UNS), Yusuf Priyandari, melakukan riset mendalam mengenai kerentanan operasional Stasiun Penukaran dan Pengisian Baterai (SPPB).
Dalam disertasinya, Yusuf menganalisis 880 ribu data transaksi dari sebuah perusahaan yang memiliki lebih dari 350 stasiun di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat kerentanan layanan digital pada rantai pasok tertutup sistem penukaran baterai yang kini makin masif didorong pemerintah.
Yusuf mengungkapkan bahwa hasil analisis datanya menunjukkan mayoritas stasiun berada dalam kondisi "tidak rentan". Temuan ini menjadi angin segar bagi ekosistem kendaraan listrik nasional, membuktikan bahwa potensi gangguan teknis yang selama ini dikhawatirkan pengguna sebenarnya dapat ditangani dengan baik oleh penyedia layanan.
"Hasil riset menunjukkan mayoritas stasiun dalam kondisi tidak rentan. Artinya masyarakat tidak perlu ragu menggunakan stasiun penukaran baterai. Gangguan memang ada, tapi sudah terpetakan untuk mitigasi yang lebih baik, sehingga layanan ini terbukti aman," ujar Yusuf Priyandari dalam Yudisium Promosi Doktor di Fakultas Teknik kampus setempat, Jumat, 6 Februari 2026.
Lebih lanjut, Yusuf menyoroti pentingnya realisasi konsep "stasiun bersama" atau interoperabilitas antar-produsen motor listrik, layaknya sistem "ATM Bersama". Menurutnya, jika data dari berbagai operator dapat terintegrasi dalam satu pusat data, pemerintah akan lebih mudah memantau kinerja dan menjaga stabilitas layanan energi hijau ini.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UNS sekaligus promotor, Prof. Wahyudi Sutopo, mengapresiasi terobosan akademik ini. Ia menjelaskan bahwa kompleksitas operasional stasiun, mulai dari pintu kabinet macet hingga stasiun offline, memang berisiko menurunkan kepercayaan konsumen jika tidak dimitigasi dengan sistem monitoring yang presisi.
"Disertasi ini memecahkan masalah kerentanan dengan model analitik berbasis large scale data. Dr. Yusuf mengembangkan model yang mampu mengklasifikasikan kerusakan dalam empat jenis, seperti stasiun offline atau baterai tidak terbaca, sehingga perbaikan bisa dilakukan lebih cepat dan transparan," kata Prof. Wahyudi.
Doktor Yusuf Priyandari lulus dengan IPK 3,96 dan lama studi 4 tahun 1 bulan serta dibebaskan dari ujian terbuka promosi doktor. Hasil riset ini juga telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Q-One Nature Research. Diharapkan hasil riset ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk segera merealisasikan stasiun pengisian baterai bersama demi efisiensi energi nasional. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....