UNS dan BPIP Rumuskan Buku Ajar Pancasila Terstandar
- 05 Feb 2026 14:04 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggandeng Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Perkumpulan Program Studi Pendidikan Sejarah Indonesia (P3SI) menggelar Seminar Nasional Sejarah Pancasila, Kamis, 5 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung FKIP kampus setempat ini bertujuan memperkuat pemahaman sejarah bangsa sebagai fondasi menghadapi tantangan globalisasi.
Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga BPIP, Dr. Ir. Prakoso, mengungkapkan alasan pemilihan Surakarta sebagai tuan rumah. Menurutnya, Kota Solo memiliki rekam jejak historis yang kuat dalam pendidikan teologi timur di awal abad ke-19 serta peran pemuda Jong Java yang turut andil dalam Sumpah Pemuda.
Prakoso menekankan bahwa pemahaman sejarah Pancasila tidak boleh sekadar menjadi aktivitas menengok masa lalu. Ia menilai sejarah harus didialogkan dengan tantangan masa depan, mulai dari isu ideologi, ekonomi, hingga pertahanan keamanan di era digital yang serba cepat.
"Jika sejarah Pancasila tidak dipahami secara utuh dan kritis, maka nilai-nilai luhur di dalamnya berisiko tereduksi bahkan terlupakan. Seminar ini adalah upaya strategis untuk mengukuhkan jati diri bangsa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks," ujar Dr. Ir. Prakoso dalam sambutannya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Penelitian UNS, Prof. Dr. Fitria Rahmawati, menyambut baik inisiatif BPIP untuk membumikan Pancasila di lingkungan pendidikan tinggi. Salah satu poin krusial yang dibahas adalah rencana penyusunan buku teks (textbook) terstandar untuk mata kuliah wajib Pancasila.
Prof. Fitria menjelaskan bahwa selama ini pembelajaran Pancasila di kampus hanya berpatokan pada kisi-kisi tanpa adanya buku ajar yang seragam secara nasional. BPIP meminta UNS mengirimkan perwakilan dosen dari berbagai disiplin ilmu, seperti Teknik, Kedokteran, dan MIPA, untuk menyusun buku tersebut agar relevan dengan berbagai bidang.
"Selama ini Pancasila belum ada textbook yang menjadi acuan baku di pendidikan tinggi, berbeda dengan kewarganegaraan. Dengan adanya buku ajar ini, kita akan punya standar yang sama dengan universitas lain sehingga pengajarannya lebih terarah," kata Prof. Fitria.
Sementara itu dalam kegiatan juga diadakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BPIP dan P3SI. Kerja sama ini bertujuan memperkuat pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan sejarah di perguruan tinggi. (Dania/ Wida)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....