Duet Srikandi Terpilih Aklamasi Pimpin AJI Surakarta

  • 03 Feb 2026 14:56 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surakarta menggelar Konferensi Kota (Konferta) VIII di Hetero Space Solo, Minggu (1/2/2026). Forum tertinggi tingkat kota ini secara aklamasi menetapkan pasangan Ika Yuniati dan Ni’matul Faizah sebagai Ketua dan Sekretaris AJI Surakarta untuk periode 2026-2029.

 

Untuk kali pertama dalam sejarah, AJI Solo dipimpin ketua dan sekretaris perempuan. Terpilihnya kepemimpinan perempuan di pucuk organisasi jurnalis Kota Surakarta ini mendapat apresiasi dari Ketua AJI Indonesia, Nany Afrida, yang  hadir mengawal jalannya konferensi.

 

Nany menilai duet Ika dan Niva merupakan cerminan semakin kuatnya kepercayaan diri serta eksistensi jurnalis perempuan di tengah tantangan profesi yang kian berat. Harapannya  kepengurusan baru ini dapat membawa organisasi lebih berkembang

 

“Saya senang, berarti kekuatan perempuan semakin kelihatan. Mereka lebih percaya diri, apalagi dengan kondisi yang berat seperti sekarang. Saya berharap kepengurusan baru ini dapat membawa organisasi lebih berkembang, menaungi lebih banyak jurnalis, serta mengajak rekan-rekan yang belum berserikat untuk segera bergabung,” ujar Nany Afrida usai kegiatan.

 

Selain regenerasi kepemimpinan, Konferta VIII AJI Surakarta menyoroti isu krusial melalui tema “Menolak Bungkam di Era Otoritarianisme Digital”. Ketua Panitia Konferta VIII yang juga Sekretaris terpilih, Ni’matul Faizah, menegaskan bahwa tema tersebut diangkat sebagai alarm peringatan bagi pers.

Menurutnya, pola pembungkaman informasi kini telah bermetamorfosis dari represi fisik menuju ranah algoritma dan digital. Merujuk pada Catatan Tahun 2025 AJI Indonesia yang merekam tren memburuknya kebebasan pers.

 

Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 89 kasus kekerasan terhadap jurnalis. Sorotan tajam tertuju pada serangan digital yang menyentuh angka 29 kasus. Rekor tertinggi dalam 12 tahun terakhir.

 

“Jika dahulu suara kita mungkin dihadapkan pada pembatasan fisik seperti bedil atau pembredelan, saat ini tantangan itu bertambah ke ruang-ruang algoritma,” tutur Ni’matul.

 

Dinamika di ruang digital kian beragam, mulai dari tekanan halus terhadap redaksi untuk menurunkan berita (take down), kendala teknis liputan tanpa dasar hukum, serangan siber, doxing (penyebaran data pribadi), hingga jeratan pasal karet yang mult itafsir.

 

Menyikapi situasi tersebut, AJI Surakarta menjadikan momentum Konferta ini untuk menyerukan penguatan solidaritas antar jurnalis. Solidaritas dinilai sebagai benteng terakhir dan kunci utama dalam menghadapi intimidasi.

 

“Meskipun teknologi bisa digunakan penguasa untuk menekan, solidaritas antarjurnalis harus lebih kuat. Tidak boleh ada satu pun rekan jurnalis di Kota Solo yang merasa berjuang sendirian saat menghadapi hambatan dalam bertugas,” tegas Ni’matul.

 

Konferta VIII ditutup dengan komitmen bersama seluruh anggota untuk menyusun strategi advokasi. Sekaligus  memperkuat kapasitas jurnalis dalam menyongsong tantangan profesi tiga tahun ke depan. (Rillis/Wida)

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....