Tinjau TPA Solo, Wamen LH Dapati Kendala Operasional PLTSA

  • 15 Jan 2026 22:01 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta: Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) Putri Cempo, Solo, Jawa Tengah yang belum optimal mendapatkan perhatian dari Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono. Wamen Diaz meninjau PLTSA Putri Cempo, Kamis 15 Januari 2026, untuk melihat langsung berbagai masalah yang dihadapi dalam pengelolaan sampah menjadi energi listrik itu.

Kunjungan Wamen Lingkungan Hidup itu didampingi Sekretaris Daerah Kota Solo Budi Murtono, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Solo Urip Jatmiko dan perwakilan PT SMPP.

Dalam kunjungan tersebut Wamen mendapatkan penjelasan langsung dari pihak operator dan Pemkot Solo perihal kondisi PLTSA. Di antaranya pemilihan sampah yang menjadi bahan bakar generator penghasil listrik atau RDF (Refuse Derived Fuel) belum sesuai kebutuhan.

Wamen Diaz mengatakan, pasokan sampah dari kota Solo hanya 400 ton perhari, sementara kebutuhan PLTSa 530 ton perhari.

"Sementara Solo ini sampahnya kata pak Sekda 400 ton tidak bisa 530 ton. Berati dari sisi sampahnya saja kurang ini, sisa kebutuhan dari sana (tumpukan sampah lama)," ucap Wamen Diaz saat berdiskusi dengan operator PLTSA dan Sekda Budi Murtono.

Kemudian persoalan pemilahan sampah ini juga menjadi PR Pemkot Solo agar segera menerapkan pilah sampah dari hulu atau rumah tangga. Karena sampah yang dibawa ke TPA komposisinya 40 persen organik dan sisanya anorganik.

"Dari komposisi 60 persen anorganik padahal setahu saya Solo itu kebalikannya. Karena Solo itu kota kuliner pasti lebih banyak sampah organik."

Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono meninjau tempat pemilahan sampah di PLTSa Putri Cempo Mojosongo, Solo, Kamis (15/1). (Foto: RRI/Prokompim Setda Solo)

Sementara itu Sekda Solo Budi Murtono mengatakan kedatangan Wamen Lingkungan Hidup untuk meninjau operasional PLTSa. Dalam kesempatan tersebut Wamen Diaz Hendropriyono lebih menggali persoalan-persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah menjadi energi listrik.

"Maninjau, melihat permasalahannya itu apa to, jadi yang di pengolahan sampahnya kondisinya seperti apa lihat ke pembangkit listriknya itu dilihat kapasitas produksinya seperti apa. Kalau pengarah ndak terlalu banyak, intinya beliau lebih menggali permasalahan-permasalahan," kata Sekda saat dikonfirmasi.

Budi mengatakan, dalam hal persoalan pemilihan sampah yang dari hulu, Wamen Diaz meminta segera dilakukan aksi nyata untuk mengoptimalkan pemilahan sampah dari hulu.

"Jadi Pak Wamen ngasih masukan salah satunya sampah yang masuk sana masih campur minta kepada Pemkot segera melakukan gerakan pilah sampah di hulu. Biar sampah yang masuk ke TPA itu terpilah diharapkan sampah yang anorganik itu," katanya lagi.

Sekda Budi Murtono juga mengakui bahwa pemilihan sampah dari hulu belum maksimal, sehingga menganggu proses RDF di PLTSa. Ditambah lagi sampah organik yang banyak dan basah ini menjadikan pemilihan sampah lambat.

Kondisi tersebut menyebabkan operasional Pembangkit Listrik belum bisa optimal, alias hanya satu mesin saja.

"Ini Pak Wali mengasih arahan kita diminta membentuk Satgas untuk melakukan gerakan pilah sampah dan ini baru kita susun langkah aksinya apa. Dan kita susun timnya langkah nyatanya apa dan timnya siapa saja." MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....