Robohnya Pendapa Mangkubumi Tuai Sorotan, Ada Tradisi yang Diabaikan

  • 03 Des 2025 07:59 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Sragen: Bangunan pendapa Mangkubumi di Masaran Sragen tiba-tiba roboh tanpa sebab. Robohnya bangunan yang konon menjadi tempat gerilya Pangeran Mangkubumi sebelum naik tahta Hamengkubuwono I di Keraton Yogyakarta Hadiningrat menuai sorotan.

Bangunan yang terbuat dari kayu jati itu roboh ditengah proses rehabilitasi yang hampir saja selesai. Beberapa kalangan menyebut, ada kesalahan teknis, faktor kayu yang lapuk dan ada tradisi Jawa yang diabaikan saat melakukan renovasi.

Pegiat LSM Topan RI Agus Triyono menegaskan perlu di cek ulang terkait spek bangunan susah sesuai standar atau belum. Apalagi ambruknya pendapa ini terjadi tanpa didahului oleh hujan deras ataupun angin kencang.

"Situasi ini menunjukkan kemungkinan adanya masalah struktural pada pengerjaan rehabilitasi. Bisa bahan yang digunakan atau teknik pekerjaan," ucap dia Selasa (2/11).

Namun pihaknya menegaskan tidak sekedar soal bangunan ambruk. Dia menekankan masalah ini juga lokasi bersejarah. Perlu dicek kembali soal kawasan itu cagar budaya atau bukan.

"Bangunan yang rusak punya nilai sejarah atau tidak, dan sebagainya. Perhatikan juga nilai historis petilasan itu, ada kerusakan atau tidak," ujarnya.

Suhardi (70) tokoh masyarakat setempat menyebut pendapa tersebut roboh Senin (1/12) sekitar setengah empat sore. Sesepuh yang rumahnya dekat kompleks Pendapa Mangkubumi, Krikilan, Masaran, Sragen, tak ada hujan tak ada angin sebelum bangunan itu roboh.

Dia lantas menyinggung hari baik hitungan Jawa yang sudah turun-temurun perihal memulai renovasi rumah. Tapi hitungan Jawa tersebut nampaknya tidak dilakukan. Ia menyebut hari baik untuk memulai pembongkaran pendapa seharusnya jatuh pada Selasa Pon, 2 Desember 2025.

“Pembongkaran pendapa justru dilakukan 20 hari yang lalu. Kalau masukan saya ya hari ini, Selasa Pon yang tepat. Kenapa Selasa Pon karena sama dengan hari datangnya Pangeran Mangkubumi ke Pendapa di Pandak-Karangnongko ini yang juga mengambil hari Selasa Pon, Jumadilawal 1746 Masehi silam,” kata dia saat dijumpai awak media.

Tak hanya itu, Suhardi menyinggung tradisi selamatan sebelum pembangunan rumah ataupun pendapa, dengan sedekah. Namun pada rehab kali ini, bancakan justru dilaksanakan sehari setelah pembongkaran berlangsung.

Sementara yang dia yakini, bahwa sejak awal pendapa tidak pernah memakai atap genting. Pada 1990-an, pendapa sempat ambruk di lokasi awalnya di Pandak Kulon RT 004. Saat diboyong ke tanah wakaf di Pandak Wetan RT 006 pada 1994, atap yang digunakan adalah krapak atau daun tebu/ilalang kering yang dianyam.

Pada perbaikan berikutnya, atap diganti sirap berbahan kayu. Namun sirap itu justru kerap memicu munculnya rayap membuat struktur kayu keropos. "Sekitar tiga tahun lalu, atap diganti galvalum bukan genting karena berat kalau genting," ucap dia.

Penggunaan genting yang lebih berat berpotensi mengancam ketahanan saka guru yang usianya diperkirakan lebih dari 250 tahun.

Sementara Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disdikbud Sragen, Johny Adhi Aryawan, membenarkan kawasan itu merupakan cagar budaya. Dia mengatakan melalui pesan singkat bahwa saat ini masih sedang proses rehab. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....