Mentan Klaim Indonesia Capai 99 Persen Swasembada Beras
- 13 Nov 2025 20:51 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Dalam Dialog Penting Menyatukan Daya: Pertanian, Infrastruktur, dan Potensi Daerah, Indonesia Punya Kamu (IPK) 2025 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengklaim Indonesia telah mencapai 99% swasembada beras dan berhasil menghentikan total impor beras.
Capaian ini, menurutnya, diraih berkat kerja keras di bawah target ambisius Presiden dan kolaborasi berbagai pihak. Mentan Amran menyatakan keyakinannya bahwa dalam satu bulan ke depan, swasembada 100% akan tercapai.
"Hari ini sudah 99%, tinggal 1 bulan keyakinan bahwa Indonesia tidak impor beras dari negara lain. Dan ini sangat cepat," ujar Amran dalam paparannya, Kamis (13/11/2025).
Ia mengungkapkan penghentian impor oleh Indonesia telah menggetarkan dunia dan berdampak langsung pada harga beras global, yang diklaimnya turun dari $650 menjadi $370 per ton.
Amran menceritakan Presiden memberikan target yang sangat menantang. Target swasembada yang semula direncanakan 4 tahun, dipercepat beberapa kali hingga menjadi hanya 1 tahun.
"Kami posisi sangat tertekan. Tapi apa hikmah di balik ini semua? Kalau mau berhasil, Anda harus berada dalam keadaan tekanan," katanya.
Ia menganalogikan tekanan tersebut seperti proses pembentukan berlian. Untuk mencapai target itu, Amran mengaku ia dan jajarannya bekerja tanpa henti.
"Kami kerja tidak ada tanggal merah. Siang, malam, sama," ucapnya menegaskan.
Capaian swasembada ini, lanjut Amran, telah divalidasi oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejalan dengan prediksi lembaga internasional seperti United States Department of Agriculture (USDA) dan FAO. Ia menegaskan keberhasilan ini bukan hasil kerjanya sendiri, melainkan kolaborasi berbagai elemen.
"Ini bukan hasil saya, hasil kita semua. Kita kolaborasi, TNI, Polri, Kejaksaan, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa, Perguruan Tinggi," ujarnya.
Namun, Amran menyebut ada pihak yang tidak senang dengan swasembada ini, yakni para importir dan mafia pangan.
"Yang tidak mengakui [swasembada] adalah importir dan mafia," ujarnya. "Tidak ada negara di dunia yang menginginkan Indonesia swasembada, karena Indonesia pasar nomor empat dunia." katanya
Amran menuding para importir kehilangan keuntungan besar yang bisa mencapai triliunan rupiah dari satu kali impor. Ia pun menyatakan perang terbuka terhadap praktik tersebut.
"Kami tidak akan mundur selangkah pun menghadapi mereka, mafia-mafia yang tidak bertanggung jawab," ucap Amran.
Sebagai bukti keseriusannya, Amran mengungkapkan bahwa dalam satu tahun terakhir, pihaknya telah menetapkan 75 tersangka terkait berbagai kasus pangan, mulai dari pupuk palsu, oplos beras, hingga gula rafinasi.
Ia juga menepis kritik soal adanya beras busuk di gudang Bulog, dengan menyebut jumlahnya sangat kecil (0,071%) dibandingkan total stok.
"Dulu tidak ada yang busuk, karena berasnya yang kosong. Gudangnya kosong," katanya. (Dania)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....