Sepi Pengunjung, Pedagang BTC Solo Milih Tutup Ruko

  • 02 Okt 2025 02:06 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Situasi lesunya perekonomian Indonesia saat ini berdampak langsung kepada para pedagang Beteng Trade Center (BTC) Solo. Sepinya pengunjung membuat hampir 50 persen pedagang memilih tutup ruko tidak melanjutkan sewa.

Ditemui wartawan pada Rabu (1/9/2025), Ketua Paguyuban pedagang BTC Solo, Nazarudin, membenarkan bahwa beberapa pemilik usaha memilih tidak memperpanjang sewa ruko. Hal itu dikarenakan adanya penurunan omset yang didapat.

"Alhamdulillah kami tetap bersyukur ya, walaupun gimana-gimana pasar seperti ini, ekonomi seperti ini ya, BTC sih tetap bisa bertahan, ya memang ada penurunan sih untuk omset. Tapi kurasa itu penurunan bukan hanya di beteng ya. Insyaallah mungkin dengan pemerintah yang baru ini bisa lebih bagus lagi," kata Nazarudin.

Nazarudin yang juga berdagang di BTC Solo, menambahkan bahwa rata-rata pedagang yang memilih untuk tidak melanjutkan sewa ruko adalah mereka yang berada di lantai satu ataupun dua, yakni penjual pakaian jadi serta online.

"Kalau lantai satu itu kan kebanyakan online. Karena online itu sekarang ternyata ya orang-orang itu kan lebih pintar sudah mulai pintar kan. Terus mereka buat sendiri di rumah. Makanya mereka agak berkurang online-nya yang di atas, itu permasalahannya itu," katanya menambahkan.

Penurunan omset yang dialami pedagang dirasakan cukup besar. Selama enam bulan terakhir, menurut Nazarudin juga ada beberapa pedagang yang mengalami penurunan omset hingga 60 persen jika dibandingkan pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, Ranie, salah satu pedagang pakaian jadi di BTC Solo yang memilih tetap bertahan, mengungkapkan bahwa rata-rata pedagang kalah saing dengan penjualan fashion yang sangat murah di akun-akun e-Commerce.

"Tapi di satu sisi kan banyak pedagang besar yang langsung turun ke e-Commerce itu. Nah, kita jadi kalah saing harga ya. Jadi harus ada regulasi dari pemerintah dan terus jangan nurunin impor-impor barang yang dari China itu dengan harga yang murah, itu benar-benar membuat kita tuh bingung, harga dengan murah seperti itu, kainnya itu berapa, penjahitnya berapa. Kok bisa sampai dia jualan semurah itu," ucap Ranie.

Lebih lanjut, Ranie juga menceritakan bagaimana dagangannya yang biasanya laku hingga 20 pieces, kini hanya terjual satu, dua ataupun delapan pieces. Dirinya bahkan juga pernah tidak mendapatkan pembeli sama sekali.

"Jadi biasanya kalau dulu bisa sehari gitu 20 piece gitu. Kalau sekarang cuman kadang delapan, kadang cuman satu atau dua, bahkan enggak ada yang beli itu juga pernah," ucapnya menambahkan.

Masa kejayaan sendiri bagi para pedagang, dikatakan sebelum pandemi Covid-19 hadir di Indonesia. Pada kala itu, BTC selalu ramai dikunjungi para pembeli hingga rela antre di depan ruko yang padahal belum buka. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....