Revitalisasi Segaran Sriwedari Picu Kritik Keraton Surakarta

  • 10 Sep 2025 10:21 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta tengah melakukan revitalisasi Segaran Sriwedari beserta Gua Swara yang berada di dalam kompleks tersebut. Revitalisasi ini dimaksudkan untuk melestarikan kebudayaan, namun menuai sorotan dari pihak Keraton Surakarta.

Kerabat Keraton Surakarta, KRMRAP L. Nuky Mahendranata Adiningrat, menilai ada kekeliruan dalam pemanfaatan pascarevitalisasi. Kopel Segaran dahulu merupakan area privat untuk raja, bukan untuk konsumsi publik.

Gua Swara dulunya berfungsi menyimpan gamelan Keraton, bukan sebagai sarana hiburan umum. “Masalah revitalisasi Kopel Sriwedari itu hari kemarin ditemukan kaya bunker. Tapi itu kaya gua buat nyimpen gamelan era Pakubuwono ke-10. Nah, itu pemerintah mau direvitalisasi mau dijadikan tempat untuk hiburan masyarakat, terus juga pertunjukan budaya. Nah itu masalahnya," ujarnya kepada RRI, Rabu (10/9/2025).

Ia menilai pemerintah, terutama Wali Kota, kurang memahami sejarah Kota Solo, sehingga kebijakan revitalisasi dianggap serampangan dan mengabaikan nilai historis. "Karena ketidaktahuan dan ketidak ingin tahuan pemerintah apalagi Wali Kota tentang Kota Solo, semuanya serba ngawur. Semua-semuanya itu diperbaiki tanpa memandang sejarah. Saya menyayangkan hal itu, karena Kopel Segaran itu adalah tempat private untuk raja. Jadi tidak boleh untuk jak-jakan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Kopel Segaran memiliki nilai sejarah tinggi karena dahulu menjadi penanda perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala yang batal terlaksana. Revitalisasi bangunan memang dianggap baik, tetapi pemanfaatan pasca revitalisasi seharusnya tetap menjaga makna sejarahnya, bukan dijadikan tempat hiburan publik biasa.

“Revitalisasi (menurut saya) oke, tapi penggunaan ke depannya yang kurang tepat. Semoga bisa berubah pikiran pemerintahnya,” ucapnya.

Sementara itu, Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, menyebut revitalisasi dilakukan dengan tujuan melestarikan budaya. "Merinding saya (melihat Gua Swara), bahwa di tahun 1900 sudah dibuat seperti ini bagus sekali. Jadi, namanya Gua Swara yang di dalamnya isinya gamelan dan difungsikan pada saat malam selikuran. Jadi, tentunya kita nguri-nguri kebudayaan,” katanya.

Respati menegaskan Segaran maupun Gua Swara akan dikembalikan sesuai fungsi awal. “Setelah jadi, akan dikembalikan fungsi dibuat sesuai di waktu itu, fungsinya juga sama dan akan terbuka untuk umum gitu bisa dinikmati semua warga. Dikembalikan ke fungsi awalnya, termasuk yang Segaran,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan komunitas Solo Societeit, Dani Saptoni, mengatakan Gua Swara dulunya memiliki fungsi khusus di era Paku Buwono X. “Iya Gua Swara dulu era Paku Buwono X membunyikan gamelan. Jadi di atas Guwo Swara itu kan ada semacam gazebo. Itu fungsinya kalau Sinuhun Pak Paku Buwono ke-10 saat itu sedang ke Sriwedari. Beliau di situ di atas gazebo itu sambil menikmati suasana, sembari beliau mendengarkan alunan gamelan dan gending yang dilantunkan dari bawah ruangan di bawah itu,” katanya. (Ase)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....