Becak Kayuh Jadi Tumpuan Hidup Suparno di Usia Senja

  • 02 Mar 2026 08:01 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Menjalankan ibadah puasa tidak selalu mudah bagi mereka yang bekerja di sektor informal. Kondisi tersebut dirasakan Suparno (71), tukang becak asal Pracimantoro, Wonogiri, yang hingga kini masih mengayuh becak di Kota Solo untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Suparno mengatakan, telah menjalani profesi sebagai tukang becak sejak tahun 1998, tepatnya setelah era reformasi.

“Sempat berjualan di daerah asalnya Wonogiri. Namun, karena mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan dan berpotensi menimbulkan fitnah, memutuskan merantau ke Solo dan memilih menarik becak sebagai mata pencaharian tetap,” pengakuan Suparno, kepada rri.co.id Senin, 2 Maret 2026.

Dalam kesehariannya, Suparno menggunakan becak kayuh tradisional. Di usianya yang tidak lagi muda, tenaga fisiknya sudah jauh berkurang bahkan tidak sanggup menarik becak dengan muatan berat. Suparno juga menyampaikan,

dirinya telah mendaftar untuk mendapatkan becak bermesin, namun hingga kini belum terealisasi.

Setiap hari waktu berangkat tidak menentu. Terkadang mulai bekerja sejak pagi dan pulang pada sore hari. Selama bulan Ramadan tetap berusaha

menjalankan ibadah puasa. Namun, kondisi fisik menjadi pertimbangan utama. Jika tubuhnya tidak kuat, ia memilih untuk tidak memaksakan diri.

“Ya biasanya puasa, aku i pengemudi becak, nanti nek misal e, apa muatan itu

tidak kuat ” ujar Suparno.

Soal penghasilan, Suparno mengaku tidak pernah menentu. Pendapatan sebagai tukang becak semakin sulit diprediksi, terlebih dengan semakin maraknya

transportasi modern. Ia juga melihat bahwa profesi tukang becak kini semakin jarang diminati dan perlahan mulai ditinggalkan.

“Penghasilan jangan ditanyakan penghasilan, sebabnya tidak punya penghasilan,

sebab e sudah tidak usom Becak” ungkapnya.

Meski demikian, Suparno tetap bersyukur selama masih diberi kesehatan, ia

memilih untuk terus menarik becak. Becak kayuh yang ia gunakan menjadi bagian

dari perjuangannya bertahan hidup di usia senja, termasuk di tengah tantangan

ekonomi dan keterbatasan fisik yang ia hadapi selama bulan Ramadan,” pungkasnya. (Noviyana – STABN Raden Wijaya)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....