Mengenal Nabeedh, Air Rendaman Kurma
- 28 Feb 2026 16:54 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Kurma yang hanya direndam air terdengar sederhana dan menyehatkan. Namun jika dibiarkan terlalu lama, minuman ini bisa berubah melalui proses fermentasi alami.
Mengutip akun Instagram @sejarahonaplate, sejak ribuan tahun lalu, kurma menjadi bahan pangan penting di Jazirah Arab. Kandungan gula alaminya tinggi, tahan terhadap cuaca panas, dan mudah disimpan dalam waktu lama.
Ketika kurma atau kismis direndam semalaman, gula alaminya larut ke dalam air. Hasilnya adalah minuman manis yang menyegarkan dan dikenal dengan nama nabeezh atau nabeedh.
Praktik ini bahkan tercatat dalam literatur Islam abad ke-7, termasuk dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Disebutkan bahwa minuman tersebut dikonsumsi sebelum mengalami perubahan rasa atau efek memabukkan.
Secara logika, ini adalah solusi cerdas untuk wilayah beriklim panas. Air rendaman kurma bukan hanya menghilangkan dahaga, tetapi juga memberi tambahan energi dari gula alami.
Namun, batas antara minuman segar dan minuman beralkohol bisa sangat tipis. Jika dibiarkan terlalu lama, gula dalam rendaman mulai difermentasi oleh mikroorganisme alami di udara.
Proses fermentasi inilah yang menghasilkan alkohol dalam kadar tertentu. Semakin lama didiamkan, semakin besar kemungkinan kandungan alkoholnya meningkat.
Karena itu, dalam praktik tradisional, nabeedh dianjurkan diminum sebelum berubah rasa dan aroma. Hari ini bisa menjadi sekadar air manis berenergi, tetapi esok hari berpotensi menjadi minuman hasil fermentasi.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana pengetahuan tradisional memahami batas waktu konsumsi tanpa teknologi modern. Rendaman kurma sederhana ternyata menyimpan cerita panjang tentang budaya, sains, dan sejarah.
(Ridho Wicaksono)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....