Fenomena War Takjil, Berburu Gorengan Berubah Menjadi 'Olahraga Nasional'

  • 23 Feb 2026 10:50 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Ramadan tahun ini terasa berbeda. Jika biasanya suasana menjelang berbuka puasa diwarnai dengan kekhusyukan, kali ini media sosial justru meledak dengan tren "War Takjil".

Fenomena ini bukan sekadar urusan perut, melainkan simbol kebersamaan baru yang dibalut dengan komedi segar. War Takjil adalah istilah yang muncul ketika masyarakat, baik yang berpuasa maupun tidak, berlomba-lomba turun ke jalan sekitar pukul 15.00 atau 16.00 WIB untuk mendapatkan kudapan berbuka terbaik.

Yang menarik bukan hanya muslim tapi juga teman-teman nonis juga turut meramaikan kegiatan ini, dan menjadi hal menarik dalam keberagaman. Lucunya, netizen muslim "mengeluh" secara bercanda karena mereka seringkali kehabisan gorengan, risol mayo, hingga es pisang ijo karena kalah cepat dengan teman-teman non-muslim yang sudah "curi start" berburu sejak matahari masih terik.

Ada tiga alasan utama mengapa topik ini mendominasi FYP (For Your Page) di media sosial. Alih-alih kaku, tren ini menunjukkan betapa cairnya toleransi di Indonesia.

Video sinematik orang-orang yang berlari membawa kantong plastik berisi es campur dengan latar belakang lagu-lagu ramadan yang remix, menciptakan konten yang sangat menghibur. Viralitas ini secara langsung membantu para pedagang kaki lima.

Efek "FOMO" (Fear of Missing Out) membuat orang-orang semakin bersemangat jajan di pasar takjil. Agar Anda tidak hanya kebagian sisa-sisa tepung gorengan, ada strategi yang sedang viral barangkali bisa kamu coba.

Dengan datang lebih dulu ke titik keramaian 30 menit lebih awal dari jadwal "serangan" umum. Siapkan uang pas atau QRIS karena kecepatan transaksi adalah kunci memenangkan perebutan bakwan terakhir. Netizen bercanda bahwa memiliki teman non-muslim adalah aset strategis untuk membantu membelikan takjil saat kita masih lemas di jam-jam kritis.

Di balik candaan tentang "perebutan" risoles, fenomena ini membuktikan bahwa ramadan adalah milik semua orang. Ia adalah momen di mana perbedaan keyakinan melebur di depan gerobak gorengan yang sama. (Aditya Wardhana)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....