FX.Rudy Kritik Kebijakan Larangan Jual Ta'jil Ramadan di Jalan Protokol

  • 11 Feb 2026 22:10 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kebijakan Pemerintah Kota Solo yang membatasi hingga melarang aktivitas penjualan takjil di sepanjang jalan protokol selama Ramadhan 2026 memantik perdebatan publik. 

Bagi pemerintah, kebijakan ini merupakan bagian dari penataan kota dan pengendalian lalu lintas. Namun bagi banyak pedagang kecil, larangan tersebut dipandang sebagai ancaman langsung terhadap sumber penghasilan musiman yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga. 

Kebijakan Wali Kota Respati Ardi mendapat kritik dari mantan Wali Kota, FX Hadi Rudyatmo. Ia menilai pelarangan total kurang mempertimbangkan aspek sosial ekonomi warga kecil. 

“Takjil itu setahun sekali. Kenapa harus dilarang? Kalau ditata rapi, tidak mengganggu jalan utama, mestinya bisa,” ujarnya, Rabu 10 Februari.

Menurut Rudy, berjualan takjil merupakan aktivitas musiman yang masih bisa diakomodasi melalui penataan, bukan pelarangan. Ia menekankan bahwa pemerintah seharusnya mencari solusi kompromi antara ketertiban kota dan keberlangsungan ekonomi rakyat. 

Rudy mencontohkan area trotoar yang lebar dan ruang di bawah pepohonan yang dapat dimanfaatkan tanpa mengganggu arus kendaraan. Ia khawatir kebijakan kaku justru memicu kekecewaan publik dan memperlebar jarak antara pemerintah dengan masyarakat kecil. "Ndak bagus kalau dipaksakan."

Di sisi lain, pemerintah kota menghadapi tantangan urban yang tidak sederhana. Kepadatan lalu lintas di koridor utama Solo meningkat dari tahun ke tahun. Aktivitas PKL kerap dianggap mempersempit ruang publik, menimbulkan kemacetan, dan meningkatkan risiko kecelakaan. 

Kepala Satpol PP Pemkot Solo Didik Anggono mengatakan, bahwa kebijakan Wali Kota bukan melarang masyarakat berjualan takjil. Namun lokasinya ditata tidak di jalan protokol, melainkan di halaman kantor kelurahan, kecamatan atau instansi yang memungkinkan untuk berjualan. 

Bahwa kebijakan Wali Kota bukan bermaksud mematikan usaha rakyat, melainkan mengalihkan aktivitas ke zona yang telah disiapkan. “Kami tetap menyediakan lokasi alternatif. Tujuannya agar ekonomi tetap berjalan, tapi kota juga tertib,” katanya.

Seperti diketahui, kawasan Jalan Slamet Riyadi disebut sebagai urat nadi Kota Solo, suasana Ramadhan biasanya identik dengan deretan lapak takjil. Menjelang waktu berbuka, trotoar dipenuhi warga yang berburu kolak, gorengan, es buah, dan aneka makanan khas puasa. 

Salah satu pedagang musiman, Siti (42), mengaku kebingungan mencari alternatif lokasi. Selama lebih dari satu dekade, ia rutin berjualan di trotoar Slamet Riyadi setiap Ramadhan.

“Kalau tidak di situ, pembelinya siapa yang tahu saya jualan?” katanya. Menurutnya, lokasi strategis menentukan keberlangsungan usaha kecil. Tanpa arus pejalan kaki yang ramai, omzet bisa turun drastis.

Kondisi serupa dirasakan pedagang lain yang menggantungkan penghasilan tambahan untuk biaya sekolah anak atau kebutuhan Lebaran. Bagi mereka, Ramadhan adalah “musim panen” tahunan yang tak tergantikan. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....