Masyarakat Antusias di Event Solo Ramadan Light Festival 2025
- 14 Mar 2025 09:29 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Bulan Ramadan tak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga ajang merajut kebersamaan. Kembali hadir untuk menyemarakkan suasana, Ramadan Light Festival (RLF) 2025 di Kota Solo menyuguhkan pesona lampu lampion terpanjang, kuliner khas berbuka, dan ragam pertunjukan seni yang meneguhkan identitas kota sebagai ruang toleransi dan kreativitas.
Sejak 1 Maret 2025, Jalan Jenderal Sudirman hingga Pasar Gede menjelma menjadi galeri cahaya terbuka. Sebanyak 23 instalasi lampion bertema Islami, 14 di antaranya membentang menghiasi jalanan, hasil kolaborasi 28 SMA di Solo, termasuk SMA Negeri 1-9, SMA Al Abidin, dan SMA Muhammadiyah. Tiga lampion raksasa sengaja dirancang secara “keroyokan” oleh siswa, menantang imajinasi sekaligus mengasah semangat gotong royong.
“Kami sengaja menyerahkan desain lampion kepada pelajar. Ini cara memberi ruang bagi ide segar generasi muda, sekaligus memupuk rasa memiliki terhadap kota,” ujar Satmaka, Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surakarta kepada RRI, Kamis (13/3/2025).
Tak sekadar hiasan, lampion-lampion ini juga menjadi simbol toleransi, serta melanjutkan tradisi dekorasi saat Imlek dan Natal, Ramadan di Solo dirayakan dengan cahaya yang sama meriah. Di halaman Balai Kota, gemerlap lampion berpadu dengan semarak Kampung Ramadan. Sebanyak 50 stan UMKM menyajikan takjil khas dan olahan tradisional lain.
Setiap Jumat dan Sabtu malam, panggung budaya menghadirkan penampilan siswa SMA, mulai dari musik islami, grup hadroh, hingga lomba tahfidz Qur’an. “Ini ruang bagi anak muda mengekspresikan bakat, sekaligus mengajak masyarakat menikmati Ramadan dengan cara berbeda,” ujar Satmaka.
RLF 2025 konsisten mempertahankan konsep religius tanpa banyak perubahan. Namun, justru di situlah kekuatannya, yakni kesederhanaan yang mengedepankan esensi kebersamaan. Sejak berbuka hingga larut, area Balai Kota dipadati keluarga yang menikmati suasana, berfoto di antara lampion, atau sekadar duduk bersama menikmati hidangan UMKM.
Salah satu pengunjung asal Palembang, Muhammad Riki Hartono (23), mengaku terpikat oleh viralnya festival ini di media sosial. “Sebagai pendatang, saya senang ada ruang berkumpul gratis seperti ini. Biasanya orang sibuk di rumah, tapi ini (RLF) bikin Ramadan terasa lebih hidup,” ujarnya.
Festival yang berlangsung hingga 31 Maret ini tidak hanya menjadi destinasi wisata religi, tetapi juga cetak biru kolaborasi antara pemerintah, pelajar, dan pelaku UMKM. (Ase)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....