Tanaman Rambusa, Tanaman Liar Simpan Potensi Besar
- 25 Okt 2025 19:55 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Tanaman rambusa (Passiflora foetida), yang tumbuh liar dan kerap terabaikan, kini menarik perhatian peneliti karena potensi manfaatnya yang cukup beragam. Dari penelitian laboratorium hingga survei tradisional, rambusa mulai dilihat sebagai salah satu tanaman alternatif untuk kesehatan dan pengobatan.
Menurut penelitian “Analisis Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Buah Rambusa (Passiflora foetida L.) terhadap Zona Hambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli, buah rambusa mengandung zat-kimia seperti flavonoid, alkaloid, triterpenoid dan steroid yang berpotensi sebagai antibakteri. Sementara penelitian lain di Universitas Andalas menemukan bahwa ekstrak buah rambusa pada konsentrasi 50 % memiliki zona hambat terhadap Lactobacillus acidophilus dengan nilai rata-rata 5,30 ± 0,83 mm.
Penelitian tersebut menunjukkan daya hambat yang signifikan.Tak hanya aktivitas antibakteri, sebuah studi “Metabolit Skunder Buah Rambusa (Passiflora feotida L) Sebagai Anti-Bakteri Pada Tanaman” menyebut bahwa buah ini mengandung senyawa saponin, flavonoid, tanin, triterpenoid, steroid dan minyak esensial. membuka peluang pemanfaatan rambusa sebagai pengobatan tradisional terhadap diare yang disebabkan bakteri Escherichia coli.
Lebih jauh artikel di Mongabay menyebut bahwa rambusa yang tumbuh liar merambat di pepohonan sering disebut markisa mini karena bentuknya bulat kecil dan bunganya putih-ungu di tengah. Kandungan seperti potasium, kalsium, dan zat besi disebutkan dalam artikel Bambo Foundation sebagai bagian dari “buah liar yang berkhasiat”.
Meski demikian, pemanfaatan rambusa sebagai pangan atau obat belum meluas ke masyarakat umum. Penelitian ITEPA di Bali menyebut bahwa pengolahan rambusa sebagai teh herbal masih terbatas karena minimnya informasi dan pemahaman masyarakat tentang tanaman ini.
Para peneliti mendorong agar rambusa tidak hanya dilihat sebagai gulma, tetapi sebagai sumber daya tumbuhan yang dapat dikembangkan dalam rangka ketahanan pangan dan pengobatan tradisional. Dukungan riset lanjutan, pemasyarakatan, dan regulasi pemanfaatan dibutuhkan agar manfaatnya bisa dirasakan luas. (Bagas Widianto/Magang)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....