Makna Filosofis Dalam Aksara Jawa

  • 30 Apr 2025 20:04 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Aksara Jawa merupakan salah satu warisan budaya berupa tulisan tradisional yang digunakan untuk menulis dalam bahasa Jawa. Terdapat 20 aksara Jawa "nglegena" yang masyarakat kenal dimulai dari Ha sampai Nga.

Dalam era sekarang, aksara Jawa masih digunakan khususnya dalam dunia pendidikan, seni, bahasa, dan yang lainnya. Penggunaan aksara Jawa tidak hanya sebatas untuk komunikasi saja, tetapi terdapat fungsi lainnya yaitu literer dan estetika.

Tentunya, terdapat makna filosofis di dalam aksara Jawa. Berikut ini beberapa makna filosofis yang terkandung dalam aksara Jawa:

Aksara Jawa berjumlah 20 ditulis dari kiri ke kanan, setiap baris terdiri dari lima aksara Jawa. Hal tersebut memiliki makna bahwa orang Jawa tidak meleset dari "keblat sekawan gangsal pancer", yang berarti manusia memiliki keterhubungan dengan alam semesta.

Aksara Jawa harus ditulis menggantung apabila ditulis pada kertas bergaris. Hal tersebut memiliki makna bahwa manusia tidak bisa merubah takdir, hanya bisa merubah nasib karena manusia hidup dibawah garis kekuasaan sang pencipta.

Jumlah aksara Jawa merupakan jumlah hari pasaran. Hal tersebut berkaitan dengan lingkup waktu. 20 aksara Jawa merupakan gambaran jumlah nama tahun Jawa dan hari.

Aksara Jawa "ra" tidak boleh "dipepet", diganti dengan "pa" "cerek". Hal ini merupakan pengingat bahwa kematian yang sempurna atau husnul khatimah harus selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Aksara Jawa "la" tidak boleh "dipepet", diganti dengan "nga" "lelet". Hal ini juga sebagai pengingat bahwa kematian tidak bisa ditunda atau dipercepat, maka manusia harus selalu mengikuti aturan yang ada.

Aksara Jawa "ra" tidak boleh dimatikan atau dipangku, diganti dengan "cakra". Hal tersebut merupakan penggambaran dari orang yang meninggal rohnya masih hidup dan berganti alam.

Aksara "la" tidak boleh dimatikan atau dipangku, diganti dengan pengkal. Hal tersebut penggambaran dari roh yang tidak mati tetapi berganti alam.

Aksara Jawa tidak mati jika di cakra, jika dipangku akan mati. Hal ini penggambaran tentang manusia yang mudah dikuasai dengan cara halus, tapi sulit dikuasai dengan cara kekerasan. (Ali Marsudi/Adit)

Sumber:

Sulaksono, D. 2019. Filsafat Jawa. Surakarta: Yuma Pustaka

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....