Dawet Ayu Banjarnegara, Tanpa Pengawet dan Pemanis Buatan

  • 30 Jul 2024 13:20 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Sekitar 20 tahun ini, Yono (56) berjualan Dawet Ayu Banjarnegara di Kota Solo, dengan tetap mempertahankan cita rasa keasliannya. Meninggalkan daerah asalnya di Banjarnegara, Yono merantau ke Solo dengan berjualan minuman menyegarkan khas daerahnya.

Pria yang akhirnya menjadi warga Kota Solo dan membina keluarga di Kota Bengawan ini, rupanya juga ikut melestarikan dan lebih mengenalkan, kuliner khas daerahnya kepada masyarakat luas. Dibantu istrinya, Yono mempersiapkan semua keperluan sendiri, terutama dalam menyediakan dawet yang dibuat sendiri, santan dan kelengkapnya juga di olah sendiri.

Semua itu dilakukan, sebagai konsistensi untuk menjaga keaslian dan kualitas cita rasa khas yang spesial Dawet Ayu Banjarnegara, sehingga tetap disukai pembeli.

Berbeda dengan dawet lainnya yang menggunakan tepung beras, untuk dawet Banjarnegera ini, Yono membuatnya dengan bahan baku tepung pati, diolah secara alami tanpa bahan pengawet. Begitu pula santan diambilkan dari parutan kepala yang segar, sedangkan gula menggunakan produk gula jawa khas Banjarnegera, tanpa bahan pemanis buatan.

“Yang membuat dawet ayu ini special, karena semua bahannya saya buat sendiri bersama istri. Mulai dari pemanisnya yang pake gula jawa, sampai dawetnya kami buat sendiri. Jadi engga pake pengawet atau pemanis buatan sama sekali,” kata Yono, Senin (29/7/2024)

Ketika melayani pembeli, Yono mencampurkan bahan-bahan berupa dawet, santan dan air gula, dengan ukuran yang pas, sehingga menghasilkan sebuah perpaduan minuman atau kudapan yang manis, menyegarkan dan khas.

Dawet Ayu Khas Banjarnegara yang buatan Yono, yang mangkal di kawasan Kentingan Solo. (Foto: Arum)

Harganya juga terjangkau, Rp 6.000 per porsi untuk dawet original dan Rp7.000 jika ditambah varian durian. Tidak mengherankan, banyak pembeli yang menyukai dawet ayu buatan Yono. Apalagi saat ini kota Solo sedang memasuki kemarau, sehingga minuman dawet ayu Banjarnegera itu bisa menjadi alternatif pelepas dahaga ditengah cuaca terik dan panas.

“Harga per satu porsi dawet ayu ini tidak terlalu mahal lho. Dengan Rp6000 untuk rasa original dan Rp7000 untuk rasa durian, sudah bisa membuat rasa dahaga terobati. Dawetnya bisa diminum disini atau dibawa pulang,” katanya.

Lokasi Dawet Ayu Banjarnegara buatan Yono ini, ada di Jl. Ki Hajar Dewantara, Jebres atau di belakang kampus Kentingan UNS, buka setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 17.00 WIB.

Dalam menjajakan dawet ayu, Yono juga tetap mempertahankan ciri khas berupa angkring berbahan dari kayu dan bambu. Namun tempat atau wadah untuk menampung dawet dan santan, meggunakan termos es yang besar, sebagai pengganti kuali gerabah. Karena, selain sulit dicari, gerabah juga terasa lebih berat dan mudah pecah.

Yono mengaku sehari-hari bisa menjual sekitar 70-80 porsi, dan jika sedang ramai dawet ayu butannya ludes terjual. Pembeli selain dari warga masyarakat setempat, juga banyak dari kalangan mahasiswa.

“Kalau di hari biasa, pas mahasiswa masuk kuliah biasanya 80 persen pembelinya dari kalangan mahasiswa. Tapi karena sekarang masih libur, jadi yang beli dari orang-orang yang lewat jalan sini aja,” katanya.

(Arum Mahasiswa UNS, sedang magang di RRI Surakarta)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....