Bentuknya Tak Beraturan, Rasanya Tak Terlupakan: Ampyang Kacang
- 07 Okt 2026 12:17 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Tumpukan ampyang berwarna coklat mengkilap tersaji rapi di baskom pedagang kaki lima, siap ditimbang dan dibungkus untuk dibawa pulang. Bentuknya tidak beraturan, bergerindil, dengan butiran kacang yang menonjol di setiap sisinya. Justru ketidaksempurnaan bentuk inilah yang menjadi ciri khas ampyang kacang, camilan tradisional yang sudah melintasi beberapa generasi namun tak pernah benar-benar kehilangan peminat.
Dikutip dari IDN Times, ampyang kacang merupakan camilan tradisional khas Lebaran dari Jawa Tengah yang terbuat dari kacang yang dibalut dalam lelehan gula merah, kemudian dipadatkan hingga mengeras. Ketahanannya yang lama serta cita rasa gurih manis yang khas membuat ampyang tetap diminati hingga sekarang, bahkan di tengah gempuran camilan kekinian.
Soal asal-usul namanya sendiri, ternyata cukup menarik. Dikutip dari Times Indonesia, sebagian masyarakat menyebut jajanan serupa ini berasal dari Solo, dengan sebutan "ampyang" yang menggambarkan bentuk camilan tersebut yang tidak rata dan bergelombang, khas hasil tuangan adonan gula dan kacang yang mengeras begitu saja tanpa dicetak rapi. Proses pembuatannya pun terbilang sederhana, yaitu gula jawa diserut dan dilelehkan, lalu dicampur kacang tanah yang sudah disangrai hingga matang, sebelum dituang dan dibiarkan dingin dan mengeras.
Dari sisi bahan baku, kacang tanah yang jadi komponen utama ampyang juga bukan sekadar isian biasa. Dikutip dari publikasi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, kacang tanah merupakan salah satu komoditas penting sebagai bahan pangan dan sumber protein nabati yang murah, dengan pemanfaatan yang terus didorong lewat berbagai inovasi produk pangan. Ini sejalan dengan semangat diversifikasi pangan lokal yang digaungkan pemerintah, menjadikan camilan seperti ampyang bukan sekadar nostalgia, tapi juga bagian dari pemanfaatan pangan lokal bergizi.
Seorang pembeli, Dias, mengaku sengaja mampir untuk membeli ampyang karena mengingatkannya pada masa kecil. "Dari dulu suka banget sama ampyang, apalagi kalau masih anget pas baru dibuat. Manis gulanya pas, kacangnya juga masih kerasa garing," ujarnya Selasa 6 Oktober 2026. Ia menambahkan bahwa camilan seperti ini jarang ditemui di toko modern. "Makanya kalau lihat yang jual di jalan gini, pasti langsung beli, soalnya nggak semua tempat jual," katanya.
Dari sekadar olahan gula jawa dan kacang tanah, ampyang membuktikan bahwa kesederhanaan justru bisa menjadi kekuatan sebuah kuliner untuk bertahan lintas generasi. Selama masih ada pedagang yang setia menjajakannya di pinggir jalan, ampyang kacang akan terus jadi pengingat manis akan cita rasa jajanan tradisional Indonesia. (Barista/ Putri Magang LPU)
Referensi:
IDN Times
Times Indonesia
Terminal Mojok
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....