Jadah Bakar Kuliner Tradisional Masyarakat yang Masih Bertahan

  • 24 Jul 2026 12:12 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta- Jadah bakar kembali menjadi perhatian sebagai salah satu kuliner tradisional khas Jawa yang masih diminati masyarakat di berbagai daerah. Makanan berbahan dasar beras ketan dan kelapa parut ini dikenal karena cita rasanya yang gurih serta aroma khas hasil pembakaran di atas bara api.

Kuliner ini banyak dijumpai di pasar tradisional, sentra jajanan, hingga kawasan wisata kuliner di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Para pedagang menyebut permintaan jadah bakar tetap stabil, terutama pada akhir pekan, musim liburan, dan saat berlangsungnya berbagai kegiatan budaya. Darsini, salah satu pedagang angkringan di Kota Yogyakarta mengatakan jadah bakar bukan hanya disukai oleh warga lokal, tetapi juga turis. “Banyak turis yang ingin mencicipi jadah bakar disini, " kata Darsini

Kuliner jadah bakar dinilai penting karena menjadi bagian dari warisan kuliner Nusantara yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi. Selain menawarkan cita rasa autentik, makanan ini juga mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan bahan pangan sederhana menjadi hidangan yang bernilai ekonomi.

Proses pembuatan jadah bakar dimulai dengan mengukus beras ketan hingga matang, kemudian mencampurkannya dengan kelapa parut dan sedikit garam. Setelah dibentuk, jadah dipanggang menggunakan bara arang hingga permukaannya berwarna kecokelatan dan mengeluarkan aroma harum yang khas.

Sejumlah pelaku usaha kuliner memilih tetap menggunakan arang sebagai media pembakaran karena menghasilkan cita rasa yang lebih autentik dibandingkan alat pemanggang modern. Cara tersebut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli yang mencari pengalaman menikmati makanan tradisional dengan rasa asli.

Jadah bakar umumnya disajikan dalam kondisi hangat sebagai teman minum teh atau kopi pada pagi maupun sore hari. Warsono, Salah satu penjual jadah bakar di angkringan yang terletak di Kota Solo mengatakan jadah bakar menjadi salah satu menu favorit di angkringannya. “Jadah bakar yang disajikan hangat menjadi salah satu makanan favorit disini, teman jadah bakar biasanya teh panas, kental dan manis”. Tekstur yang lembut didalam,gurih dan sedikit renyah di luar menjadi nikmat dipadukan minuamn yang panas”, ungkapnya.

Pelaku usaha berharap promosi melalui media sosial, festival kuliner, dan kegiatan pariwisata dapat memperkenalkan jadah bakar kepada generasi muda maupun wisatawan. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan penjualan sekaligus menjaga keberlangsungan kuliner tradisional di tengah persaingan makanan modern.

Dengan cita rasa yang tetap terjaga dan proses pembuatan yang masih mempertahankan cara tradisional, jadah bakar diperkirakan akan terus menjadi salah satu ikon kuliner daerah. Pelestarian makanan ini tidak hanya mendukung perekonomian pelaku usaha kecil, tetapi juga memperkuat identitas budaya Indonesia melalui kekayaan kuliner lokal. ( Fara LPU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....