Angkringan Pikul Mbah Senen, HIK Otentik yang Bertahan di Era Modernisasi
- 09 Apr 2026 08:23 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Angkringan pikul Mbah Senen menjadi potret langka dari warisan kuliner tradisional yang ada di Kota Solo. Di usianya yang sudah menginjak 74 tahun, Mbah Senen masih setia menjajakan Hidangan Istimewa Kampung (HIK) dengan cara dipikul berkeliling. Keberadaannya bukan hanya soal makanan, tetapi menjadi simbol ketahanan budaya yang tak lekang oleh perubahan zaman.
Pengalaman menikmati hidangan di angkringan ini terasa berbeda dari tempat makan pada umumnya. Tanpa meja dan kursi, pembeli hanya duduk lesehan di trotoar beralaskan sandal, menciptakan suasana yang begitu hangat. Interaksi yang terjalin pun terasa lebih akrab tanpa adanya sekat sosial.
Mengutip dari unggahan Instagram @kahananpictures, Rutinitas berjualan Mbah Senen dimulai sejak sore hari pukul 16.00 sampai maghrib di sekitar RS Brayat. Setelah maghrib, ia berpindah menuju kawasan Terminal Tirtonadi untuk melanjutkan jualannya. Mbah Senen melanjutkan aktivitas berjualan HIK di pintu keluar bus bagian barat sampai tengah malam.
Hidangan yang disajikan tetap mempertahankan cita rasa khas kampung yang autentik dan konsisten. Nasi kucing dengan beragam pilihan lauk sederhana menjadi menu andalan yang selalu diburu pelanggan setia. Justru dari kesederhanaan inilah tercipta pengalaman kuliner yang hangat, otentik, dan sulit tergantikan oleh konsep modern.
Di tengah maraknya kafe modern dan angkringan tenda yang menggunakan gerobak, angkringan pikul Mbah Senen menjadi satu-satunya yang tersisa di Solo. Hal ini menjadikannya sebagai monumen hidup dari sejarah kuliner yang terus tergerus Modernisasi.
Keunikan inilah yang menjadi daya tarik tersendiri, mengundang banyak orang untuk bernostalgia dengan suasana angkringan tempo dulu. Di sisi lain, hal ini juga memantik rasa penasaran generasi muda yang mungkin baru mengenal adanya angkringan pikul.
Unggahan Instagram @kahananpictures mengenai angkringan pikul Mbah Senen membuat banyak warganet yang merasa dibawa kembali ke masa lalu. Akun @dondhil1314, berkomentar, "kelingan jaman disiiik kae, angkringan pikulan jaman kampung e isih peteng rg akeh lampu, komplit nan dagangan e, cen ngangeni," (Teringat masa dulu, angkringan pikulan saat kampung masih gelap dan belum banyak lampu). Dagangannya lengkap, benar-benar membuat rindu), ujarnya. Sementara akun @didikdaru63 berkomentar, “Ingat zaman dulu, yg begini ini keliling kampung-kampung sambil teriak hiiikkk," katanya
Kehadiran angkringan pikul Mbah Senen menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya lokal. Di tengah perkembangan kota yang semakin pesat, nilai-nilai kesederhanaan dan kebersamaan tetap hidup melalui tradisi ini. Tidak berlebihan jika angkringan ini disebut sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner Solo.
(Yogi Tripriyanto/Penyiar)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....