Lenjongan Jajanan Tradisional Khas Solo

  • 29 Sep 2025 13:25 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Di tengah kekayaan kuliner khas Kota Solo, terdapat satu jajanan tradisional yang mulai jarang dijumpai, namun memiliki cita rasa tak terlupakan. Makanan ini bernama Lenjong, sebuah sajian yang dulu mudah ditemui di pasar-pasar tradisional, namun kini perlahan mulai menghilang dari peredaran.

Meski namanya tidak tenar, Lenjong menyimpan kekayaan rasa dan sejarah yang tak kalah menarik. Lenjong sebutan untuk beragam jajanan pasar berbahan dasar singkong dan beras ketan, seperti gatot, gendar, sawut, cenil, ketan hitam, tiwul, dan jongkong.

Masing-masing memiliki tekstur dan tampilan berbeda, namun sama-sama menawarkan rasa manis alami dari gula merah serta aroma harum dari kelapa parut yang digunakan sebagai isian atau taburan. "Suka banget perpaduan rasa dan teksturnya, beragam juga, tradisional banget, " ucap pembeli lenjong Rein.

Lanjutnya, saat disantap, Lenjong memberikan sensasi unik sejak gigitan pertama. Teksturnya yang kenyal dan lembut berpadu dengan rasa manis dari isian gula merah yang meleleh di mulut.

Tidak hanya itu, kelapa parut yang gurih memberikan keseimbangan rasa, membuat camilan ini tidak terasa terlalu manis. Sederhana, namun memuaskan, itulah kesan yang muncul setelah menikmati seporsi Lenjong.

"Sedihnya semakin berkembangnya tren kuliner modern membuat jajanan seperti Lenjong makin sulit ditemukan, ya untung masih ada di pasar Gede," kata pembeli lain Ana.

Banyak anak muda bahkan belum pernah mendengar namanya. Beberapa komunitas pelestari kuliner tradisional di Solo kini mulai bergerak untuk mengenalkan kembali jajanan ini melalui berbagai kegiatan, seperti pameran makanan tradisional dan kelas memasak.

Melestarikan Lenjong bukan hanya soal menjaga resep, tetapi juga merawat bagian penting dari identitas budaya lokal. Di balik rasa manis dan bentuknya yang sederhana, Lenjong menyimpan cerita panjang tentang kebersahajaan masyarakat Jawa dalam mengolah hasil bumi. Kini, tugas kita bersama untuk memastikan jajanan ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

( Reineldis Oktaviani Wara/magang/Univ Pignareli/Aditya )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....