Adaptasi Variasi Kuliner Tionghoa, Warisan Kuliner Indonesia

  • 28 Jan 2025 05:21 WIB
  •  Surakarta

KBRN, Surakarta: Sejarah kuliner Tionghoa di Indonesia yang sangat kaya dan menarik, terkait erat dengan sejarah panjang migrasi masyarakat Tionghoa ke Nusantara. Kuliner Tionghoa mengalami banyak adaptasi dan variasi seiring berjalannya waktu, menciptakan makanan yang kini menjadi bagian penting dari warisan kuliner Indonesia.

Tercatat dalam buku "The Food of China" tulisan E. N. Anderson, seorang ahli antropologi, buku ini mengulas bagaimana budaya kuliner Tionghoa telah berkembang seiring waktu dan bagaimana masyarakat Tionghoa di luar Tiongkok, seperti di Indonesia, memodifikasi masakan untuk menyesuaikan dengan bahan-bahan lokal. Masyarakat Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, terutama antara abad ke-13 hingga 17.

Mereka datang untuk berdagang dan akhirnya menetap, terutama di pelabuhan-pelabuhan besar seperti di Malaka, Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Pada masa ini, mereka membawa serta budaya dan kuliner Tionghoa yang khas.

Pada awalnya, kuliner Tionghoa di Indonesia lebih banyak dipengaruhi oleh tradisi kuliner Tiongkok bagian selatan, terutama dari Fujian dan Kanton, karena banyaknya orang Tionghoa yang berasal dari wilayah tersebut. Seiring waktu, kuliner ini mulai berbaur dengan bahan-bahan lokal dan adaptasi selera yang berbeda, menciptakan berbagai variasi yang unik.

Kuliner Tionghoa di Indonesia mengalami sejumlah perubahan signifikan untuk menyesuaikan diri dengan ketersediaan bahan lokal dan preferensi rasa masyarakat setempat. Banyak bahan-bahan asli Tiongkok yang sulit ditemukan di Indonesia, sehingga diganti dengan bahan lokal, misalnya, daging babi yang sangat populer dalam masakan Tionghoa diubah dengan menggunakan daging ayam atau sapi di daerah-daerah dengan populasi Muslim, seperti di Jawa.

Dessert masakan Tionghoa ( Foto : Freepik )

Selain itu, sayuran tertentu diganti dengan sayuran lokal yang lebih mudah didapatkan. Makanan Tionghoa di Indonesia cenderung lebih manis dibandingkan dengan versi aslinya.

Ini disebabkan oleh pengaruh rasa manis yang sangat populer dalam masakan Jawa. Misalnya, masakan seperti Babi Kecap atau Ayam Kecap menjadi sangat populer dengan penggunaan kecap manis lokal.

Kuliner Tionghoa yang beradaptasi dengan selera Indonesia sering kali menggabungkan rempah-rempah khas Indonesia. Misalnya, penggunaan jahe, kunyit, dan kemiri dalam masakan Tionghoa yang telah dimodifikasi.

Hal ini memberikan cita rasa yang lebih khas Indonesia pada masakan Tionghoa. Sementara itu beberapa makanan Tionghoa juga mengalami perubahan dalam bentuk dan penyajiannya, misalnya, siomay, yang asalnya berasal dari dumpling Tiongkok, diadaptasi dengan menggunakan ikan tenggiri dan bumbu kacang yang lebih khas Indonesia.

Selain itu, bakpao yang populer di kalangan masyarakat Tionghoa juga mengalami variasi, dengan isian yang lebih beragam, seperti ayam, kacang merah, hingga abon. Kuliner Tionghoa juga berbaur dengan tradisi lokal dalam berbagai perayaan atau acara tertentu, seperti pada Tahun Baru Imlek, makanan seperti kue keranjang (kue ketan yang dibungkus daun) menjadi sangat populer.

Di Indonesia, kue keranjang ini sering dihidangkan bersama dengan Lapis Surabaya atau Kue Cubir, yang merupakan adaptasi lokal. Masakan Peranakan (Tionghoa-Peranakan): Kuliner Tionghoa di Indonesia juga menghasilkan varian khas yang dikenal dengan nama masakan Peranakan (atau Chitown), yang menggabungkan elemen-elemen kuliner Tionghoa dengan masakan Melayu, Jawa, atau Indonesia lainnya.

Masakan Peranakan menciptakan sajian-sajian unik seperti sate lilit, sop kimlo, dan nasi goreng Tionghoa. Pengaruh kuliner Tionghoa di Indonesia juga sangat terlihat dalam perayaan-perayaan besar, seperti Imlek dan Cap Go Meh, yang tidak hanya melibatkan masakan tradisional, tetapi juga cara menyajikan makanan dalam bentuk yang lebih meriah dan beragam.

(Wiwik Martani)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....