Kue Putu, Camilan Tradisional yang Nikmat
- 09 Jan 2025 15:30 WIB
- Surakarta
KBRN, Surakarta: Kue Putu salah satu makanan tradisional yang dapat dijumpai baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. Jajanan tradisional ini kerap di jual secara berkeliling di kawasan perumahan, di sekitar sekolah, serta di pasar-pasar tradisional. Harga untuk jajanan tradisional masih berada dalam kategori yang ekonomis dan terjangkau, berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 2.000 tiap bijinya.
Pembuatan kue putu masih menggunakan bahan-bahan alami yang dapat dijumpai di lingkungan sekitar kita. Namun, beberapa makanan tradisional saat ini sering kali memanfaatkan bahan atau peralatan yang tergolong modern. Seperti kue putu yang pada awalnya diproduksi dengan menggunakan bambu sebagai cetakan, kini sering kali digantikan dengan penggunaan pipa atau PVC.
Mbah Hadi, salah satu penjual kue putu setiap hari berkeliling menjajakan dagangannya. Mbah Hadi berkeliling dengan gerobak dari siang hingga sore, untuk menawarkan kue putu bambu yang disajikan langsung dari proses pembuatannya.
Kue putu merupakan camilan tradisional yang cukup sederhana, terbuat dari tepung beras yang diisi dengan gula jawa dan dimasak dalam tabung bambu. Setelah proses memasak dan pematangan selesai, biasanya untuk memperkaya cita rasa dan meningkatkan kenikmatan kue putu bambu, ditambahkan topping berupa kelapa parut.
“Kue putu salah satu makanan tradisional, tapi masih banyak penggemarnya. Mulai dari anak-anak hingga orang tua suka dengan kue putu," jelas Mbah Hadi.
Ara salah satu pembeli kue putu mengatakan, “Kue putu memiliki tekstur yang lembut manis dan ada rasa gurih yang berasal dari tepung. Kue putu dibungkus dengan daun pisang, menambah aroma yang sedap dan wangi. Dimakan saat kue putu masih hangat, lebih enak,” ungkapnya.
Kue putu identik dengan bunyi “ngung” pada gerobaknya berasal dari lubang-lubang yang terdapat pada wadah pengukusnya. Kue ini menghasilkan suara menyerupai peluit serta mengeluarkan uap, yang menambah daya tariknya. Ciri khas suara yang dihasilkan saat memasak kue putu bambu disebabkan oleh uap yang keluar melalui celah-celah kecil pada bambu yang berfungsi sebagai cetakan, yang terbentuk akibat proses pemasakan dan mengeluarkan asap.

Proses pemasakan kue putu dilakukan dengan menempatkannya di dalam lubang-lubang yang terdapat pada wadah pengukus. Ketika kue putu bambu telah mencapai tingkat kematangan yang optimal, alat pengukus ini akan memproduksi suara serupa peluit disertai dengan keluarnya uap. (Fara/LPU)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....