Kenali Speech Delay pada Anak, Jangan Menunggu Terlalu Lama

  • 30 Sep 2026 14:39 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kemampuan berbicara dan berbahasa pada setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tetap perlu diperhatikan orang tua karena keterlambatan berbicara dapat berkaitan dengan perkembangan bahasa maupun kemampuan lain pada anak.

Speech Therapist RSUD Bung Karno Kota Surakarta, Angga Pradana, A.Md.TW, menjelaskan istilah speech delay yang banyak digunakan masyarakat sebenarnya perlu dibedakan dengan keterlambatan bahasa atau language delay. Menurutnya, speech delay lebih berkaitan dengan kemampuan anak mengucapkan atau mengartikulasikan kata, sedangkan language delay menyangkut kemampuan memahami dan menggunakan bahasa sesuai usia perkembangannya.

"Kalau anak belum memperoleh banyak kosakata sesuai usianya, kurang perhatian, atau belum mampu memahami instruksi, bisa jadi bukan hanya speech delay, tetapi juga language delay," ujar Angga dalam dialog Asta Cita Pro 4 RRI Surakarta, Selasa 22 September 2026.

Ia mencontohkan, ketika seorang anak menginginkan minum, kemampuan berkomunikasi tidak selalu harus ditunjukkan dengan mengucapkan kata "minum". Anak juga dapat menunjukkannya dengan menunjuk gelas, mengambil gambar gelas, atau menarik orang tua menuju tempat minum, karena hal tersebut merupakan bentuk ekspresi kebutuhan.

Angga mengatakan orang tua perlu memahami tahapan perkembangan anak dan tidak hanya menunggu dengan anggapan kemampuan berbicara akan muncul dengan sendirinya. Pada usia tertentu, anak memiliki tahapan perkembangan bahasa dan komunikasi yang dapat menjadi acuan untuk melihat apakah kemampuan anak sudah sesuai dengan usianya. (Hilma)

"Kalau pada usia satu tahun belum muncul kemampuan yang seharusnya, sebaiknya dilakukan penilaian oleh tenaga profesional. Kita perlu melihat apakah ada keterlambatan atau gangguan sehingga bisa ditangani sejak awal," katanya.

Menurut Angga, salah satu faktor yang dapat memengaruhi perkembangan bahasa anak adalah lingkungan komunikasi. Penggunaan gawai dan televisi yang berlebihan, misalnya, cenderung memberikan komunikasi satu arah sehingga anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melakukan interaksi dua arah dengan orang di sekitarnya.

Ia menambahkan, faktor lain juga dapat berpengaruh, seperti kondisi kognitif, sensorik, kemampuan motorik bicara, fungsi pendengaran, hingga lingkungan sosial. Karena itu, penyebab keterlambatan perkembangan bahasa pada setiap anak tidak selalu sama dan perlu dilakukan penilaian secara menyeluruh.

Angga menekankan bahwa kemampuan memahami bahasa menjadi bagian penting sebelum anak mampu mengekspresikan dirinya melalui ucapan. Anak yang banyak mengucapkan kata belum tentu memahami makna kata tersebut sehingga orang tua perlu memperhatikan apakah anak benar-benar memahami instruksi, benda, maupun fungsi dari kata yang digunakan.

"Berbicara banyak itu hanya salah satu cara berkomunikasi. Sebelum mengekspresikan sesuatu, anak harus memahami terlebih dahulu. Pemahaman itulah yang kemudian membentuk bahasa dan kosakatanya," jelasnya.

Untuk orang tua yang mulai melihat adanya perbedaan perkembangan, Angga menyarankan pemeriksaan diawali dengan berkonsultasi kepada dokter anak. Dokter dapat melihat riwayat perkembangan anak sejak sebelum lahir, proses kelahiran, hingga kondisi setelah lahir, kemudian menentukan pemeriksaan atau rujukan yang diperlukan.

Di RSUD Bung Karno Kota Surakarta, menurut Angga, anak yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat diarahkan kepada dokter rehabilitasi medik untuk menyusun program terapi. Setelah itu, terapis melakukan asesmen untuk mengetahui bagian perkembangan yang belum optimal dan menentukan latihan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Dalam terapi, misalnya, anak yang belum mampu berbicara tetapi sudah memiliki pemahaman dasar dapat terlebih dahulu dilatih kemampuan bahasa reseptif. Anak diperkenalkan dengan nama benda di sekitarnya, kemudian diminta memberikan respons melalui menunjuk, mengambil, mendekati benda, atau bentuk respons lain yang menunjukkan bahwa ia memahami instruksi.

Angga menegaskan stimulasi sejak dini penting dilakukan karena dapat membantu orang tua mengetahui kemampuan dan tahapan perkembangan anak. Stimulasi juga membuat keterlambatan lebih mudah dikenali sehingga orang tua dapat menentukan langkah yang sesuai tanpa harus menunggu sampai anak semakin besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....