Sering Dengar Lagu Galau? Pahami Efek Musik terhadap Kesehatan Mental Remaja
- 30 Agt 2026 18:52 WIB
- Surakarta
RR.CO.ID., Surakarta - Lagu bukan sekadar hiburan pemuas telinga, melainkan benteng pertahanan utama bagi kesehatan mental remaja. Di tengah maraknya paparan stres dan kecemasan yang melanda jiwa muda saat ini, musik hadir sebagai alat ampuh untuk membantu mereka mengenali, mengolah, serta meredakan emosi yang bergejolak.
Dilansir dari riset BOLD Science bertajuk "How teenagers use music to deal with emotions", saat menghadapi rasa sedih, cemas, atau kecewa, para remaja cenderung mencari musik yang mampu mencerminkan perasaan mereka. Hal ini memberi kenyamanan emosional sekaligus penegasan bahwa mereka tidak berjuang sendirian di tengah pergumulan batin.
Secara ilmiah, mendengarkan musik memberikan efek relaksasi yang nyata bagi tubuh dan pikiran. Penurunan kadar hormon stres kortisol, perlambatan detak jantung, serta penenangan sistem saraf menjadi respons biologis yang membantu tubuh keluar dari kondisi tertekan, sembari mengaktifkan area otak yang memicu rasa gembira.
Temuan ini sejalan dengan riset ilmiah di jurnal PubMed Central (PMC) bertajuk "Influence of music on the hearing and mental health of adolescents and countermeasures" yang menyoroti kajian Liila Taruffi (2021). Penelitian tersebut mengungkap bahwa banyak remaja memilih menyampaikan identitas dan emosinya dengan merangkai serta membagikan daftar putar lagu (playlist).
Menyusun playlist melankolis saat suasana hati buruk atau lagu energik saat gembira tak sekadar ekspresi estetika semata. Kebiasaan membagikan playlist ini juga menjadi sarana efektif bagi anak muda untuk menemukan teman dengan minat serupa guna memperkuat koneksi sosial dan empati antar sesama.
Aktivitas bermusik seperti bernyanyi, memainkan instrumen, atau menciptakan lagu secara kolaboratif juga efektif meningkatkan kepercayaan diri dan ketahanan mental. Ruang ekspresi bersama ini memfasilitasi kedalaman hubungan sosial yang kerap sulit dicapai hanya melalui komunikasi lisan biasa.
Meski demikian, musik ibarat pisau bermata dua bagi kesehatan mental. Bagi sebagian remaja yang sedang berjuang melawan depresi atau dalam kondisi rentan, mendengarkan lagu berunsur keputusasaan dan agresi secara berulang justru berisiko menjebak mereka dalam lingkaran kesedihan, menarik diri dari pergaulan, hingga memperburuk kondisi emosional.
Oleh karena itu, orang tua, guru, dan pendamping tidak perlu mengawasi setiap lagu yang didengarkan remaja, melainkan cukup membangun rasa ingin tahu yang positif. Mengajukan pertanyaan tanpa nada menghakimi mengenai musik favorit mereka dapat membuka ruang dialog yang aman, membantu remaja memahami emosinya, sekaligus melatih kemampuan mengelola emosi secara bijak di masa depan. (Dinar/ Keyza Vella Audria, Mahasiswi D3 Bahasa Inggris UNS - Magang di RRI)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....