Gula Pasir atau Gula Cair, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

  • 28 Agt 2026 03:53 WIB
  •  Surakarta
Poin Utama
  • Gula cair dan gula pasir sama-sama memberikan kalori dan diproses tubuh dengan cara yang serupa menurut Harvard Health Publishing.
  • Gula dalam bentuk cair dari minuman manis cenderung kurang memberikan rasa kenyang dibandingkan makanan padat sehingga risiko konsumsi kalori berlebih lebih tinggi.
  • Kedua jenis gula tetap memberikan rasa manis dan digunakan secara luas dalam makanan dan minuman sehari-hari masyarakat Indonesia.

RRI.CO.ID, Surakarta - Gula menjadi salah satu bahan yang sulit dipisahkan dari makanan dan minuman sehari-hari. Mulai dari gula pasir untuk kopi dan teh hingga gula cair atau sirup yang banyak digunakan dalam minuman kekinian, keduanya sama-sama memberikan rasa manis. Namun, muncul pertanyaan, apakah gula cair sebenarnya lebih baik dibandingkan gula pasir?

Mengutip Harvard Health Publishing dari Amerika Serikat, pada dasarnya berbagai jenis gula tambahan tetap memberikan kalori dan diproses tubuh dengan cara yang serupa. Sementara itu, Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa gula dalam bentuk cair, terutama dari minuman manis, cenderung kurang memberikan rasa kenyang dibandingkan makanan padat sehingga seseorang berpotensi mengonsumsi kalori lebih banyak.

Gula pasir atau sukrosa merupakan jenis gula yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, gula pasir dapat meningkatkan asupan kalori tanpa memberikan banyak zat gizi. Namun, penggunaan gula pasir memiliki satu kelebihan, yakni jumlahnya lebih mudah terlihat dan diukur ketika ditambahkan sendiri ke dalam makanan atau minuman.

Sementara itu, istilah gula cair dapat mencakup berbagai bentuk pemanis, seperti sirup gula, madu, hingga gula yang sudah dilarutkan dalam minuman. Tantangannya, gula dalam bentuk cair sering kali lebih mudah dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa disadari. Seseorang dapat menghabiskan segelas minuman manis dalam waktu singkat, meski kandungan gulanya cukup tinggi.

Hal ini menjadi perhatian karena minuman berpemanis merupakan salah satu sumber utama gula tambahan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menyebut konsumsi minuman manis secara rutin berkaitan dengan berbagai dampak kesehatan, termasuk kenaikan berat badan, obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan kerusakan gigi.

Lantas, mana yang lebih baik? Jawabannya bukan semata-mata terletak pada bentuknya, melainkan pada jumlah yang dikonsumsi. Gula cair tidak otomatis lebih sehat hanya karena berbentuk sirup atau berasal dari bahan yang dianggap alami. Begitu pula gula pasir tidak selalu berbahaya jika dikonsumsi secara terbatas. Yang perlu diperhatikan adalah total gula tambahan yang masuk ke dalam tubuh setiap hari.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, dan pembatasan hingga kurang dari 5 persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan. Karena itu, baik memilih gula pasir maupun gula cair, langkah terbaik adalah mengurangi konsumsi berlebihan dan membiasakan diri menikmati rasa alami makanan dan minuman. Jadi, bukan soal gula mana yang paling sehat, tetapi seberapa bijak kita mengonsumsinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....